KALTIMPOST.ID, PASER - Libur Lebaran menjadi momentum yang dinantikan para pelaku usaha di sektor pariwisata untuk meraup cuan. Tak terkecuali tahun ini di tengah adanya gejolak dan tekanan ekonomi global.
Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Paser Sukatmin mengatakan, kunjungan wisata di wilayahnya pada momen libur Lebaran kali ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pergerakan wisatawan cukup dinamis di berbagai destinasi.
Menurutnya, pada hari kedua setelah libur, mayoritas wisatawan masih menjadikan pantai sebagai tujuan utama. Namun, destinasi lain di Paser juga mulai kebagian limpahan pengunjung.
“Saya lihat memang cenderung H+2 sasarannya banyak ke pantai di Kemilau Laut Pondong. Tapi tidak banyak juga yang berkunjung ke destinasi lain seperti Museum Sadurengas hingga Tahura Lati Petangis,” ujarnya.
Dia menjelaskan, di Paser ada sekitar 16 objek wisata yang tercatat di dinas terkait. Pantai masih jadi pilihan utama karena ramah keluarga. "Dari segi kapasitas itu luas, bisa menampung di atas 1.000 orang. Di sisi lain pantai cocok untuk keluarga, mulai anak-anak sampai orang tua. Museum itu juga banyak kunjungannya karena edukasi," lanjutnya.
Pada 2025 lalu, total kunjungan wisata di Kemilau Laut Pondong tercatat tertinggi dengan 18.850 kunjungan. Disusul Mahakam Park yakni 11.128 kunjungan, lalu Tahura Lati Petangis dan Gunung Boga masing-masing 6.434 dan 5.510 kunjungan.
Sukatmin mengungkapkan, salah satu destinasi yang menunjukkan tren stabil adalah Gunung Boga. Meski tidak selalu membludak, kunjungan tetap terjadi secara berkelanjutan. Sebab sebagian besar tren kunjungan adalah camping yang tidak terikat pada momen-momen tertentu.
Secara keseluruhan, angka kunjungan tahun ini dinilai lebih baik dibandingkan 2025. Bahkan, jika dibandingkan dengan daerah tetangga seperti Penajam Paser Utara (PPU), peningkatan di Paser cukup terasa. “Memang pelan-pelan destinasi di Paser ini berkembang,” tambahnya.
Daya tarik utama Gunung Boga terletak pada pengalaman wisata alam yang ditawarkan. Sukatmin menyebut, sebagian besar pengunjung datang untuk berkemah dan menikmati suasana alam, utamanya adalah pemandangan matahari terbenam hingga embun pagi.
“Kebanyakan memang camping, menikmati suasana sore saat sunset sampai embun atau kabutnya muncul, bahkan sampai jam 8 atau 9 pagi. Nuansanya alami sekali, cocok untuk healing,” kata pria yang mengelola Gunung Boga tersebut.
Ke depan, pengembangan fasilitas terus didorong. Pada 2026, pemerintah disebut menggelontorkan anggaran sekitar Rp3 miliar khusus untuk pengembangan Gunung Boga. Fokusnya antara lain pembangunan skyview, panggung, serta spot-spot swafoto untuk menarik lebih banyak wisatawan.
“Dengan adanya pembangunan itu, tentu akan lebih baik lagi. Apalagi 2026 ini kita juga menyongsong Pekan Olahraga Provinsi, jadi fasilitas destinasi memang didorong,” ujarnya.
Sukatmin menambahkan, mayoritas pengunjung Gunung Boga berasal dari luar Paser, seperti PPU, Balikpapan, dan Samarinda. Mereka sengaja datang untuk menginap dan menikmati suasana alam yang ditawarkan. “Banyak dari luar daerah, memang sengaja camping di Gunung Boga,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo