KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kinerja hotel berbintang di Balikpapan belum benar-benar pulih. Memasuki awal 2026, tingkat hunian kamar (TPK) justru menunjukkan tren penurunan.
Pada Februari 2026, okupansi rata-rata hanya berada di angka 50,42 persen. Angka ini turun 4,37 poin dibanding Januari yang sempat menyentuh 54,79 persen.
Secara tahunan, penurunan juga terjadi. Dibanding Februari 2025 yang mencapai 55,58 persen, terjadi koreksi sebesar 5,16 poin.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama Prianto menyebut, tren ini mencerminkan melemahnya permintaan kamar di awal tahun. “Ini menjadi sinyal perlambatan aktivitas kunjungan, baik wisata maupun perjalanan bisnis,” ujarnya, Rabu (1/4).
Baca Juga: Pertamina Imbau Masyarakat Jangan Panik, Stok BBM Aman
Jika ditelisik per kelas hotel, bintang 3 masih menjadi penopang utama dengan tingkat hunian tertinggi sebesar 57,64 persen. Sebaliknya, hotel bintang 1 dan 2 mencatat okupansi terendah di angka 36,03 persen. Sementara itu, hotel bintang 4 berada di level 47,66 persen dan bintang 5 di angka 54,71 persen.
Secara sederhana, dari 100 kamar yang tersedia di Balikpapan, hanya sekitar 50 kamar yang terisi sepanjang Februari. Bahkan, di hotel kelas bawah, keterisian hanya berkisar sepertiga dari total kapasitas.
Penurunan terdalam terjadi pada hotel bintang 5 yang anjlok 7,99 poin dibanding Januari. Ini menandakan segmen premium pun ikut terdampak. Meski begitu, secara tahunan justru ada tren positif. Okupansi hotel bintang 5 naik 6,76 poin dibanding Februari tahun lalu.
Menurut Marinda, faktor musiman menjadi salah satu penyebab utama. Setelah periode libur panjang, aktivitas perjalanan biasanya belum kembali normal. “Awal tahun memang fase penyesuaian. Pergerakan wisata dan bisnis belum sepenuhnya pulih,” jelasnya.
Baca Juga: Hadapi Tim Pesakitan, Pelatih Borneo Waspada Kebangkitan Madura United
Kondisi ini menjadi peringatan bagi pelaku industri perhotelan. Strategi pemasaran dinilai perlu dioptimalkan, terutama untuk menghadapi periode low season yang masih berlangsung. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo