KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pemerintah terus mencermati perkembangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi kinerja APBN, termasuk di Kalimantan Timur. Ketegangan internasional dinilai dapat berdampak pada stabilitas ekonomi, terutama melalui pergerakan harga komoditas dan energi.
APBN berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) utama dalam melindungi ekonomi Indonesia dari ketidakpastian geopolitik global. Seperti yang saat ini terjadi yakni konflik Timur Tengah, lonjakan harga energi hingga pelemahan nilai tukar.
Baca Juga: Cabai Rawit hingga BBM Dongkrak Inflasi Bulanan Kaltim Maret 2026
Kondisi geopolitik saat ini menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi sejak dini. “Kondisi geopolitik tentu menjadi tantangan, baik besar maupun kecil dampaknya,” ujar Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kaltim Tjahjo Purnomo.
Dia mencontohkan mulai meningkatnya harga minyak dunia sebagai salah satu indikator yang perlu diperhatikan. Kenaikan harga energi berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi, termasuk biaya produksi dan distribusi. “Kalau kita lihat, harga minyak dunia sudah mulai naik, ini tentu perlu diantisipasi,” jelasnya.
Baca Juga: Belanja APBN di Kaltim Tembus Rp 5,04 Triliun, Sektor Infrastruktur Jadi Motor Utama Pertumbuhan
Menurut Tjahjo, pemerintah mengandalkan fleksibilitas kebijakan fiskal dalam menghadapi dinamika global tersebut. APBN dirancang agar mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan kondisi ekonomi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Kita harus menjaga respons kebijakan fiskal agar tetap optimal, baik dari sisi penerimaan maupun belanja,” tegasnya.
Dia menambahkan, APBN memiliki peran penting sebagai shock absorber atau penyangga dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Dalam situasi seperti ini, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara penerimaan dan belanja negara agar tetap produktif dan tepat sasaran.
“APBN harus tetap produktif dan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. Dengan langkah antisipatif tersebut, diharapkan perekonomian Bumi Etam tetap stabil meskipun menghadapi tekanan dari dinamika global yang tidak menentu.
Editor : Muhammad Ridhuan