KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Jauh sebelum dikenal lewat Batik Arit Lepo, Ises Rahayu lebih dulu menekuni usaha kerajinan tangan. Sejak 2009, dia sudah menjalankan bisnis Souvenir Borneo di Sangatta, Kutai Timur dengan fokus pada produk berbasis manik-manik dan kerajinan lokal.
Seiring waktu, usahanya berkembang ke segmen premium. Dia mulai menggunakan bahan berkualitas tinggi dan membuat produk dengan sentuhan desain lebih eksklusif, seperti tas rotan custom yang dipadukan kulit.
“Ukuran tasnya saya custom ke pengrajin rotan, lalu saya kombinasi dengan kulit di bagian pinggir dan pegangannya, baru ditambah hiasan mani-manik,” jelas perempuan kelahiran 1968 tersebut.
Tak berhenti di situ, Ises juga sempat mengembangkan produk berbasis kain, seperti tas dari kanvas dan kain bermotif batik. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting sebelum akhirnya benar-benar fokus ke batik. Diakui jika membatik mulanya karena mengisi waktu kala pandemi. Dia belajar lewat temannya.
Baca Juga: Gudang Beras 1.000 Ton Bakal Dibangun di Kubar, Pemkab dan Bulog Tinjau Lahan di Ngenyan Asa
Di sisi lain, Ises juga tetap bekerja profesional. Dia sempat menjadi manajer di salah satu perusahaan asuransi setelah sebelumnya bekerja di perusahaan tambang. Keputusan berpindah pekerjaan diambil agar lebih fleksibel. “Saya harus menengok anak di dua kota di Jawa, Bandung dan Jawa Timur, jadi cari kerja yang fleksibel,” katanya.
Seiring waktu belajar membatik, ternyata motif yang dia tuliskan di atas kain menjadi daya tarik kuat. Banyak yang ingin meminang batik buatannya. Memasuki 2022, dia mulai serius mengembangkan batik sebagai usaha. Momentum tresebut diperkuat saat dia mengikuti program pembinaan dari Bank Indonesia. “Nah, waktu itu ada coaching. Dari 40 orang disaring jadi 10 dan saya terpilih,” ungkapnya.
Padahal, saat itu usahanya belum genap dua tahun. Namun peluang tersebut menjadi titik penting dalam pengembangan bisnisnya. Sejak saat itu, dia mulai membangun sistem produksi lebih rapi. Workshop batik pun didirikan lengkap dengan instalasi pengolahan limbah (IPAL) untuk mendukung proses produksi yang berkelanjutan.
Dalam operasional, dia dibantu dua karyawan tetap yang bekerja setiap hari dengan sistem gaji bulanan. Produksi tetap berjalan meski tidak ada pesanan untuk menjaga ketersediaan stok. Jika pesanan meningkat, dia juga melibatkan tenaga tambahan, khususnya untuk proses tertentu seperti pelorotan. “Kalau lagi banyak pesanan, saya cari teman pembatik juga untuk bantu,” jelasnya.
Untuk pemasaran, Ises memanfaatkan berbagai kanal. Selain pembeli yang datang langsung, media sosial seperti Facebook juga menjadi sumber transaksi. “Ada yang tiba-tiba chat, bilang sudah lama naksir, baru beli,” ungkapnya.
Pasarnya pun mulai meluas. Selain pelanggan di Sangatta, pesanan rutin datang dari Jakarta dan Kalimantan Utara. Saat ini, produk yang dijual masih didominasi kain batik. Namun dia juga melayani pembuatan pakaian jadi secara custom dengan menggandeng penjahit.
Tak hanya fokus produksi, Ises juga mulai membuka workshop sebagai tempat edukasi. Setelah mendapat bantuan renovasi, kini dia menerima kunjungan pelajar untuk belajar membatik. “Saya juga ada semacam CSR atau tanggung jawab sosial dari usaha saya yaitu membuka kelas edukasi khususnya ke siswa sekolah,” ujarnya.
Menariknya, Batik Arit Lepo juga mulai menembus pasar internasional. Baru-baru ini, produknya lolos seleksi untuk pameran di Belanda. Namun hanya batik dengan pewarna alam yang diterima. Ises mulai memproduksi batik pewarna alam sejak tahun lalu.
Ke depan, dia berharap usahanya terus berkembang dan menjangkau pasar lebih luas. Dari sebuah kegiatan mengisi waktu masa pandemi, usahanya tumbuh menjadi usaha yang tidak hanya menghasilkan tapi juga identitas budaya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo