KALTIMPOST.ID, Lonjakan harga plastik naik hingga 30–80 persen mulai terasa dampaknya bagi pelaku usaha kecil.
Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan global akibat konflik Timur Tengah, yang berdampak langsung pada dampak UMKM di dalam negeri.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengakui pemerintah sudah menerima banyak keluhan dari pelaku usaha terkait mahalnya bahan kemasan plastik.
Baca Juga: Harga Perak Antam Hari Ini 7 April 2026 Ambles Lagi, Sempat Tembus Rp 74 Ribu Kini Malah Segini!
“Sudah ada aspirasi yang masuk. Kebutuhan plastik untuk bungkus produk memang naik. Tapi kami akan siapkan mitigasinya,” kata Maman di Jakarta.
Kenaikan harga plastik naik ini menjadi masalah serius karena banyak UMKM bergantung pada plastik sebagai kemasan utama produk mereka.
Dampaknya tidak hanya pada biaya produksi, tetapi juga harga jual ke konsumen.
Baca Juga: Harga Plastik Global 'Mencekik', Pedagang Pasar Tradisional Mulai Putar Otak!
Maman menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian UMKM akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia untuk merumuskan langkah konkret.
Namun, ia menilai pembahasan masih tahap awal. “Masih terlalu dini untuk dijelaskan sebelum pembahasan teknis selesai,” ujarnya.
Di tengah tekanan dampak UMKM, DPR ikut bersuara. Anggota Komisi VI, Firnando Ganinduto, meminta pemerintah segera turun tangan.
Baca Juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini, 7 April 2026: Naik Rp 19.000, Ini Rincian Harga Terbarunya
“Pemerintah perlu segera melakukan stabilisasi melalui pengawasan distribusi bahan baku serta penguatan industri petrokimia nasional agar ketergantungan terhadap pasokan global bisa dikurangi,” ujarnya.
Ketergantungan tinggi pada impor menjadi salah satu penyebab utama rapuhnya pasokan. Menurut Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia, kebutuhan bahan baku plastik di Indonesia masih didominasi impor.
Sekjen Inaplas, Fajar Budiono, menjelaskan, "Untuk nafta, kebutuhan mencapai 3 juta ton per tahun dan 100 persen impor.
Untuk bahan baku plastik seperti PE, PP, PET, PS, dan PVC serta lainnya sekitar 8 juta ton, dengan 50 persen masih impor."
Untuk meredam dampak konflik Timur Tengah, pelaku industri mulai mencari alternatif bahan baku.
"Sudah mulai komunikasi dengan Asia Tengah, Afrika, dan Amerika. Yang jelas lead time lebih lama, paling cepat sekitar 50 hari. Semua negara sedang berusaha untuk mengamankan feedstock," jelas Fajar. ***
Editor : Dwi Puspitarini