KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global yang terus menghantam, industri perbankan nasional rupanya masih memiliki taring yang tajam. Bukannya loyo, ketahanan perbankan justru terlihat semakin kokoh berkat sokongan dana masyarakat yang tumbuh luar biasa solid.
Hingga Februari 2026, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh melesat di angka 13,18 persen secara year-on-year (yoy). Angka ini menyentuh nilai yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp 10.102 triliun.
Kepala OJK Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (OJK Kaltim-Kaltara), Misran Pasaribu mengungkapkan, pertumbuhan ini didorong oleh kepercayaan masyarakat yang tetap tinggi untuk menyimpan uang mereka di lembaga formal. Giro, deposito, dan tabungan masing-masing mencatatkan pertumbuhan sebesar 18,56 persen, 13,00 persen, dan 8,12 persen secara yoy.
Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Pemkot Samarinda Imbau Warga Lebih Bijak Berbelanja
Kondisi tersebut secara otomatis menjaga likuiditas industri tetap berada pada level yang sangat aman, bahkan berada jauh di atas ambang batas yang ditetapkan oleh regulator.
Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 121,29 persen, sementara rasio Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di level 27,4 persen. Angka ini jauh melampaui threshold masing-masing yang hanya sebesar 50 persen dan 10 persen.
Dari sisi kualitas kredit, risiko perbankan juga dipastikan tetap terkendali dengan rasio kredit bermasalah yang stabil. Kualitas kredit terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,17 persen dan NPL net di angka 0,83 persen.
Selain itu, tingkat kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang mencapai 25,83 persen menjadi "bantalan" atau buffer mitigasi risiko yang sangat kuat bagi perbankan untuk menyerap potensi risiko ke depan.
Optimisme pelaku industri pun tetap berada di level yang tinggi. Hal ini tercermin dari hasil survei OJK yang menunjukkan keyakinan kuat terhadap prospek perbankan. Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 56, yang artinya industri perbankan saat ini sedang berada di zona optimis untuk terus bertumbuh. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo