Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Inflasi PPU Tembus 1,09 Persen, Harga Ikan Tongkol dan Cabai Meroket Akibat Cuaca Buruk

Ulil Mu'Awanah • Jumat, 10 April 2026 | 21:51 WIB
TANTANGAN: Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil paling besar inflasi di PPU, yakni mencapai 1,00 persen. DOK/JP
TANTANGAN: Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil paling besar inflasi di PPU, yakni mencapai 1,00 persen. DOK/JP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Lonjakan harga kebutuhan pokok tampaknya menjadi tantangan berat bagi warga di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatatkan inflasi yang cukup mencolok sebesar 1,09 persen secara bulanan (month-to-month) pada Maret 2026. Angka ini terpantau lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi di Kota Balikpapan pada periode yang sama.

Secara tahunan, inflasi di PPU memang masih berada di level 3,02 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional. Namun, kenaikan harga di sektor pangan menjadi sorotan tajam. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil paling besar, yakni mencapai 1,00 persen.

Komoditas "meja makan" seperti ikan tongkol, cabai rawit, terong, hingga buah-buahan seperti semangka dan tomat menjadi pendorong utama meroketnya indeks harga.

Baca Juga: Inflasi Balikpapan Melandai tapi Harga Bensin dan Cabai Tetap "Pedas" Selama Ramadan, Ini Pemicunya

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi mengungkapkan bahwa terbatasnya pasokan ikan menjadi salah satu pemicu utama kegaduhan harga ini.

Cuaca buruk yang melanda perairan Kalimantan membuat aktivitas nelayan berkurang drastis. Akibatnya, suplai ikan di pasar menurun tajam di saat permintaan masyarakat sedang tinggi-tingginya selama bulan Ramadan.

Kondisi serupa juga menimpa sektor hortikultura. Curah hujan yang tinggi tidak hanya menghambat distribusi, tetapi juga mengganggu produktivitas lahan pertanian.

Robi menjelaskan bahwa dinamika inflasi di PPU sangat rentan karena ketergantungan pasokan yang masih besar dari luar Pulau Kalimantan. Hal ini membuat harga di PPU sangat sensitif terhadap setiap gangguan distribusi maupun faktor cuaca di daerah pengirim.

Baca Juga: Bajaj Online Sudah Beroperasi di Tenggarong, Pemkab Minta Tidak Jalan Dulu

Meski demikian, tekanan inflasi ini sedikit tertahan oleh penurunan harga pada beberapa komoditas strategis lainnya. Daging ayam ras, minyak goreng, dan sayuran hijau tercatat mengalami penurunan, berkat program pasar murah dan langkah stabilisasi pasokan yang digencarkan pemerintah daerah.

Langkah-langkah ini setidaknya mampu memberi napas lega bagi warga di tengah gempuran harga pangan lainnya. Melihat inflasi tahun kalender yang sudah menyentuh 2,04 persen hingga Maret ini, tantangan ke depan dipastikan tidak mudah.

Robi menekankan bahwa perbaikan jalur distribusi dan penguatan produksi pangan lokal menjadi kunci mutlak agar PPU tidak terus-menerus didikte oleh pasokan luar daerah. Dengan begitu, stabilitas harga di wilayah penyangga IKN ini dapat lebih terjaga meski cuaca sedang tidak bersahabat. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#ekonomi ikn #harga pangan PPU #Inflasi Penajam Paser Utara 2026 #BI BALIKPAPAN #inflasi PPU Maret 2025