Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dampak Gejolak Global, Harga Bahan Baku Naik, UMKM Balikpapan Tertekan dan Daya Beli Terancam Melemah

Ulil Mu'Awanah • Kamis, 16 April 2026 | 08:35 WIB
Bambang Saputra
Bambang Saputra

KALTIMPOST.ID-Tekanan global kembali terasa hingga ke level paling bawah perekonomian daerah. Kenaikan harga bahan baku akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah kini mulai mengguncang stabilitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Balikpapan.

Tidak hanya bahan baku utama, lonjakan juga terjadi pada komponen pendukung seperti plastik kemasan hingga distribusi, yang secara langsung memaksa pelaku usaha menaikkan harga jual produk.

Fenomena itu bukan sekadar penyesuaian harga biasa, melainkan sinyal adanya tekanan berlapis yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat sekaligus keberlanjutan usaha kecil.

“Dalam kondisi ini, UMKM berada di posisi paling rentan, di satu sisi harus menjaga margin keuntungan, di sisi lain menghadapi risiko kehilangan pelanggan,” tutur dosen sekaligus peneliti Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Balikpapan Bambang Saputra.

Dia menilai bahwa kenaikan harga memang sulit dihindari. Namun keputusan tersebut tidak boleh dilakukan secara reaktif.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Jatam Kaltim Kritik Penertiban di Tahura Bukit Soeharto Kukar, Soroti Masih Ada Tambang Ilegal Belum Tersentuh Otorita IKN

Di mana keputusan menaikkan harga yang terlalu tinggi pasti berisiko membuat pelanggan beralih atau bahkan berhenti membeli produk. Yang justru dapat mengancam keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Menurutnya, banyak pelaku UMKM masih belum memiliki perencanaan keuangan yang cukup kuat untuk menghadapi gejolak eksternal seperti saat ini.

“Padahal, dalam situasi penuh ketidakpastian, strategi penyesuaian harga harus berbasis perhitungan yang matang, bukan sekadar mengikuti kenaikan biaya,” timpalnya.

Ia menyarankan agar pelaku usaha mulai melakukan efisiensi internal. Termasuk menekan biaya operasional yang tidak mendesak serta mencari alternatif bahan baku yang lebih terjangkau tanpa menurunkan kualitas produk secara signifikan. Selain itu, penyesuaian harga sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tidak mengejutkan pasar.

“UMKM perlu menghitung secara rinci berapa kenaikan harga yang ideal agar tidak berdampak pada penurunan daya beli konsumennya,” ujarnya.

Lebih jauh, Bambang menekankan bahwa menjaga loyalitas pelanggan justru menjadi kunci utama di tengah tekanan ekonomi.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: DPRD Kaltim Soroti Penutupan RM Tahu Sumedang di Tahura Bukit Soeharto, Minta Otorita IKN Bertindak Adil dan Siapkan Solusi bagi Warga

Dalam situasi sulit, konsumen cenderung lebih selektif dalam berbelanja. Sehingga hubungan emosional antara pelaku usaha dan pelanggan menjadi faktor penting yang dapat menjaga stabilitas penjualan.

Ia mengatakan, UMKM sebaiknya tidak hanya fokus pada margin keuntungan, tetapi juga mempertahankan kepercayaan dan loyalitas konsumen. Karena masyarakat sebagai konsumen juga perlu didukung agar tetap memiliki daya beli.

Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam meredam dampak kenaikan harga ini. Kebijakan yang berpihak pada stabilitas harga, bantuan bagi kelompok rentan, serta pengawasan distribusi dinilai menjadi langkah krusial agar tidak terjadi lonjakan harga yang tidak wajar di tingkat pasar.

Bambang berujar, jika harga di tingkat produsen sebenarnya stabil, maka kenaikan di pasar harus bisa dijelaskan secara transparan. Pengawasan distribusi sangat penting agar tidak terjadi permainan harga di tingkat perantara.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa gejolak global memiliki efek domino hingga ke ekonomi lokal. “Tanpa strategi adaptif dari pelaku usaha dan intervensi kebijakan yang tepat, tekanan ini berpotensi memperlemah daya tahan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah,” ungkapnya. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #ibu kota nusantara #UMKM Balikpapan #Wali Kota Balikpapan Rahmad Masud #Kutai Barat