KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Moskow membuka peluang menambah cadangan minyak mentah untuk kebutuhan domestik. Di tengah situasi konflik yang belum mereda, langkah ini menjadi kabar baik untuk ketahanan energi nasional.
Bahlil menyebut, sejumlah potensi kerja sama pengelolaan minyak dan gas pun akan dilakukan. Pertemuan keduanya merupakan tindak lanjut dari pembahasan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang berlangsung sebelumnya di Kremlin. Salah satunya membahas penambahan pasokan minyak mentah dan liquefied petroleum gas (LPG) untuk kebutuhan Indonesia.
”Hari ini (15/4) saya baru selesai melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Energi Rusia dalam rangka menindaklanjuti kesepakatan pembicaraan antara Presiden Prabowo dengan Presiden Putin. Alhamdulillah apa yang sudah menjadi kesepakatan, kita mendapatkan hasil yang cukup baik di mana kita bisa mendapatkan cadangan crude kita. Di samping itu kita akan mendapatkan LPG,” ujar Bahlil.
Bahlil menegaskan bahwa kerja sama tersebut dijajaki melalui skema antarpemerintah Government to Government atau (G2G) maupun business-to-business (B2B), yang diharapkan dapat memberikan kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional, khususnya untuk minyak mentah dan LPG di Indonesia.
Di sisi lain, Bahlil menyampaikan bahwa Indonesia terbuka untuk memperluas ruang kolaborasi dengan Rusia, termasuk pada pengembangan storage, crude, pasokan jangka panjang minyak mentah dan LPG, penjajakan nuklir, serta kerja sama di sektor mineral. "Kita ingin semua ini betul-betul memberi kepastian bagi ketahanan energi nasional," tegasnya.
Bahlil menilai hasil pertemuan itu memberi sinyal positif bagi penguatan ketahanan energi nasional. di tengah dinamika global yang tidak menentu. Ia menilai kemitraan dengan Rusia dapat menjadi salah satu opsi penting, mengingat kapasitas produksi energi negara tersebut yang besar serta pengalamannya dalam industri minyak dan gas.
"Sekali lagi saya merasa senang hari ini karena atas arahan Bapak Presiden Prabowo untuk menindaklanjuti secara tuntas. Dan alhamdulillah sekali lagi saya katakan bahwa insyaallah bisa kita mendapatkan yang baik," jelas Bahlil.
Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah perwakilan perusahaan energi Rusia seperti Rosneft, Ruschem, Zarubezhneft, dan Lukoil. Indonesia juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan Rusia, mulai dari pengembangan fasilitas penyimpanan energi, kontrak pasokan minyak mentah dan LPG jangka panjang, hingga penjajakan kerja sama di bidang energi nuklir dan sektor mineral.
Rusia dinilai memiliki kapasitas produksi energi yang besar serta pengalaman panjang di industri minyak dan gas. “Sebagai mitra strategis, kami siap berkolaborasi terutama dalam penyediaan minyak dan gas, penyimpanan, maupun kelistrikan, dalam hal ini pembangkit listrik tenaga nuklir,” jelas Sergey Tsivilev. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo