KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Transformasi digital di sektor keuangan Kalimantan Timur terus menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, transaksi non-tunai tumbuh signifikan dengan QRIS dan uang elektronik sebagai pendorong utama.
Bank Indonesia mencatat, kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital tetap kuat. Hal ini didukung oleh sistem pembayaran yang semakin aman, lancar, dan andal.
Di tingkat regional Kaltim, lonjakan paling mencolok terjadi pada transaksi QRIS.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Agus Taufik, mengungkapkan nilai transaksi QRIS di Kaltim pada Februari 2026 mencapai Rp2,36 triliun.
Baca Juga: Proyek Jalan Sp Belusuh–Batas Kalteng Dikebut, Produksi Box Culvert Resmi Dimulai
“Nominal transaksi QRIS tercatat Rp2,36 triliun atau tumbuh 133 persen secara tahunan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Tak hanya dari sisi nominal, peningkatan juga terlihat pada jumlah pengguna dan merchant. Jumlah pengguna QRIS mencapai 872 ribu atau tumbuh 9 persen secara tahunan.
Sementara itu, jumlah merchant QRIS tercatat sebanyak 831 ribu atau meningkat 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Agus menilai, pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya adopsi sistem pembayaran digital di masyarakat.
“Transaksi QRIS dan uang elektronik menjadi penggerak utama pertumbuhan transaksi non-tunai di Kaltim,” jelasnya.
Baca Juga: Viral Keributan di Polresta Balikpapan, Kapolda Kaltim Ungkap Fakta Mengejutkan
Selain QRIS, uang elektronik juga mencatatkan kinerja positif. Nilai transaksinya mencapai Rp810 miliar atau tumbuh 30 persen secara tahunan.
Di sisi lain, transaksi menggunakan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) tercatat sebesar Rp12 triliun. Meski masih mendominasi secara nominal, angkanya justru mengalami penurunan 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi masyarakat dari penggunaan kartu ke metode pembayaran digital yang lebih praktis.
Agus menambahkan, tren tersebut juga didorong oleh meningkatnya literasi keuangan digital serta perluasan ekosistem pembayaran di berbagai sektor.
“Peningkatan jumlah pengguna dan merchant QRIS menunjukkan ekosistem digital di daerah terus berkembang,” katanya.
Dengan tren ini, Bank Indonesia optimistis digitalisasi sistem pembayaran akan semakin memperkuat inklusi keuangan di Kalimantan Timur.
Kemudahan transaksi melalui QRIS dan uang elektronik dinilai mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, termasuk pelaku UMKM. (*)