KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja industri perhotelan di Kalimantan Timur pada Februari 2026 belum menunjukkan tanda perbaikan. Tingkat hunian kamar justru mengalami penurunan, baik dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Februari 2026 tercatat sebesar 46,97 persen. Artinya, dari seluruh kamar yang tersedia, rata-rata hanya sekitar separuh yang terisi. Kondisi ini mencerminkan melemahnya permintaan terhadap jasa akomodasi.
Dibandingkan Januari 2026, penurunan yang terjadi cukup signifikan. Pada bulan sebelumnya, TPK hotel berbintang masih berada di level 51,87 persen. Dengan demikian, terjadi penurunan sebesar 4,90 poin.
Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Ariyanti Cahyaningsih, mengungkapkan bahwa penurunan juga terjadi secara tahunan. Pada Februari 2025, TPK hotel berbintang tercatat sebesar 52,78 persen, atau lebih tinggi 5,81 poin dibandingkan Februari 2026.
Jika dirinci berdasarkan klasifikasi, hotel bintang 4 mencatat tingkat hunian tertinggi dengan angka 48,96 persen. Posisi berikutnya ditempati hotel bintang 3 sebesar 48,61 persen, disusul bintang 5 dengan 44,96 persen, dan bintang 2 sebesar 39,88 persen. Sementara itu, hotel bintang 1 menjadi yang terendah dengan tingkat hunian hanya 23,29 persen.
Penurunan juga terjadi pada segmen hotel mewah. TPK hotel bintang 5 pada Februari 2026 turun 5,28 poin dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 50,24 persen. Secara tahunan, angka ini juga turun 3,93 poin dari Februari 2025 yang berada di level 48,89 persen.
Baca Juga: Gubernur Rudy Mas'ud Persilakan Aksi 21 April: Demo Hak Konstitusional, Tapi Utamakan Dialog
Pada sisi lain, hotel nonbintang dan akomodasi lainnya turut mengalami penurunan. TPK pada Februari 2026 tercatat sebesar 22,09 persen, turun 2,72 poin dari Januari 2026 yang berada di angka 24,81 persen.
Jika dibandingkan dengan Februari 2025, penurunan pada hotel nonbintang bahkan lebih dalam, yakni 5,15 poin dari sebelumnya 27,24 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap layanan akomodasi di Kalimantan Timur masih belum stabil di awal 2026.
Penurunan tingkat hunian di hampir seluruh klasifikasi hotel menjadi sinyal bahwa sektor perhotelan masih menghadapi tekanan. (*)
Editor : Ery Supriyadi