KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kondisi daya beli petani di Kalimantan Timur pada Maret 2026 masih menunjukkan sinyal positif. Meski mengalami penurunan tipis dibanding bulan sebelumnya, Nilai Tukar Petani (NTP) tetap berada di level tinggi, menandakan petani masih menikmati surplus dari aktivitas usahanya.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Kaltim Ariyanti Cahyaningsih menjelaskan, NTP menjadi indikator utama untuk mengukur kemampuan atau daya beli petani di wilayah perdesaan. Perhitungan NTP dilakukan dengan membandingkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).
“NTP juga mencerminkan daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, maka secara relatif semakin kuat pula daya beli petani,” ujarnya.
Berdasarkan hasil survei pemantauan harga di enam kabupaten, yakni Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Penajam Paser Utara, NTP Kaltim pada Maret 2026 tercatat 148,00. Artinya petani masih berada dalam kondisi surplus karena harga yang diterima lebih tinggi dibandingkan harga yang harus dibayar.
Baca Juga: Polemik Ijazah Jokowi Terbaru 2026: Roy Suryo Singgung Dugaan Ijazah Palsu Rismon
Kendati demikian, secara bulanan NTP mengalami penurunan 0,72 persen dibanding Februari 2026. Ariyanti mengungkapkan, penurunan dipicu oleh kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga hasil produksi pertanian.
“Indeks harga yang diterima petani hanya naik sebesar 0,01 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani meningkat 0,74 persen. Kondisi ini menyebabkan NTP mengalami penurunan secara bulanan,” jelasnya.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, NTP Maret 2026 juga tercatat turun 0,62 persen. Terindikasi adanya tekanan terhadap daya beli petani, meskipun secara umum masih berada pada level yang cukup kuat.
Lebih rinci, pergerakan NTP antar subsektor menunjukkan dinamika yang beragam. Dua subsektor tercatat mengalami penurunan, yakni tanaman pangan yang turun 0,98 persen serta tanaman perkebunan rakyat yang terkontraksi lebih dalam 1,85 persen.
Sebaliknya, tiga subsektor lainnya justru mencatatkan kenaikan. Subsektor hortikultura menjadi yang tertinggi dengan kenaikan 2,81 persen, diikuti subsektor peternakan 1,64 persen, serta subsektor perikanan yang tumbuh 0,57 persen.
Ariyanti menegaskan, perbedaan kinerja antar subsektor menunjukkan adanya variasi tekanan harga maupun biaya produksi yang dihadapi petani di masing-masing sektor. Meski begitu, capaian NTP yang masih berada di atas angka 100 menjadi sinyal bahwa secara umum kesejahteraan petani di Kaltim masih terjaga.
“Selama NTP berada di atas 100, artinya petani masih mengalami surplus. Ini menunjukkan bahwa secara umum daya beli petani di Kaltim masih dalam kondisi baik,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo