KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Arah pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih akan menanjak memasuki pekan terakhir April 2026. Sentimen global menjadi pendorong utama, terutama meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda.
Kawasan Selat Hormuz kembali jadi sorotan. Jalur vital distribusi energi dunia itu berada dalam tekanan seiring memanasnya situasi regional. Kondisi tersebut berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah, yang kemudian berpotensi memicu inflasi global.
Baca Juga: Kronologi Kekerasan di Daycare Jogja: 13 Orang Jadi Tersangka, Puluhan Bayi Jadi Korban
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pekan depan menjadi fase krusial.
Pernyataan Iran yang menyebut kesiapan menghadapi konflik memperbesar ketidakpastian. “Ini akan menentukan, apakah eskalasi berujung konflik terbuka atau justru mereda,” ujarnya.
Di sisi lain, permintaan emas juga terdongkrak oleh aksi akumulasi dari negara-negara BRICS. Langkah ini memperkuat posisi emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah gejolak ekonomi dan politik global.
Tak hanya itu, arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta pergerakan indeks dolar turut memberi pengaruh besar.
Baca Juga: Prediksi Suhu Capai 42°C, Jamaah Calon Haji PPU Diimbau Siaga Cuaca Ekstrem
Kombinasi faktor tersebut membuat pasar komoditas, khususnya emas, berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat dalam waktu dekat.
Dengan situasi yang masih dinamis, pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan global, terutama yang berkaitan dengan konflik kawasan dan kebijakan ekonomi negara besar.
Editor : Uways Alqadrie