KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kalimantan Timur memang kaya akan sumber daya alam, namun potret investasi di sektor pertanian ternyata masih timpang.
Berdasarkan data terbaru Direktori Perusahaan Pertanian (DPP) 2025, terlihat jurang pemisah yang sangat tajam antara geliat usaha kehutanan dengan subsektor lainnya, terutama perikanan.
Saat ini, sektor kehutanan masih berdiri kokoh sebagai "raksasa" dengan total 76 perusahaan. Angka ini berbanding terbalik dengan subsektor perikanan yang tercatat hanya memiliki 2 perusahaan aktif di seluruh Kaltim.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa ketidakseimbangan ini mencerminkan fokus investasi yang belum merata di subsektor pertanian. Padahal, potensi laut dan air tawar di Benua Etam sejatinya sangat luas.
Baca Juga: Sawit Masih Jadi Raja di Bumi Etam: 219 Perusahaan Mendominasi, Terpusat di Kutai Timur
"Cakupan perikanan sebenarnya luas, mulai dari budidaya hingga penangkapan ikan untuk tujuan komersial. Namun saat ini, perusahaan perikanan hanya ditemukan di dua titik, yakni Paser untuk budidaya air tawar dan Balikpapan untuk budidaya ikan hias," jelas Mas’ud.
Di sisi lain, subsektor peternakan menunjukkan tren yang cukup stabil meski belum semasif kehutanan. Terdata ada 15 perusahaan yang bergerak di bidang ini, dengan konsentrasi terbesar berada di Kutai Kartanegara dan Balikpapan.
Menariknya, 60 persen perusahaan peternakan di Kaltim atau sebanyak 9 unit fokus pada komoditas unggas. "Balikpapan menjadi pusat penyebaran utama untuk peternakan unggas ini, diikuti 6 perusahaan yang mengelola sapi potong, dan satu perusahaan di sektor ternak kambing," imbuh Mas’ud.
Sementara itu, kejayaan sektor kehutanan di Kaltim masih terus berlanjut. Aktivitas usahanya mencakup berbagai komoditas mulai dari kayu, getah, hingga produk tanaman hutan lainnya. Sebaran usahanya pun masih terpusat di Samarinda sebagai hub utama.
Baca Juga: Suksesi Kepemimpinan Karang Taruna Kaltim Memanas, Kubar Deklarasikan Dukungan untuk Hendra
Mas’ud menekankan bahwa secara keseluruhan, total perusahaan pertanian di Kaltim pada tahun 2025 mencapai 317 unit. Meski sebagian besar dalam kondisi aktif, struktur ini menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada sektor kayu (kehutanan) dan sawit (perkebunan).
Ketimpangan ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk mulai melirik potensi hilirisasi di sektor perikanan dan peternakan agar ekonomi Kaltim tidak hanya bertumpu pada satu atau dua sektor saja. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo