Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Inflasi atau Harga-Harga Perdesaan di Kaltim Naik-Turun Sepanjang 2025, Ini Penjelasannya

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 30 April 2026 | 14:13 WIB
TAK MENENTU: Sepanjang 2025, inflasi perdesaan menunjukkan pola fluktuatif. Hal itu berkaitan dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).
TAK MENENTU: Sepanjang 2025, inflasi perdesaan menunjukkan pola fluktuatif. Hal itu berkaitan dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Pergerakan harga di wilayah perdesaan Kalimantan Timur sepanjang 2025 tidak berjalan mulus. Data menunjukkan pola fluktuatif dengan lonjakan tajam pada periode tertentu, terutama saat momen konsumsi tinggi.

Indikator yang digunakan untuk membaca kondisi tersebut adalah Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang menjadi bagian dari Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). Pada 2025, rata-rata Ib tercatat 123,03, naik 2,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS 2026 Belum Berubah! Pemerintah Ungkap Alasan dan Prosedur Kenaikannya

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, indikator tersebut mencerminkan tekanan harga yang dirasakan masyarakat perdesaan.

"Ib menggambarkan perkembangan harga barang dan jasa yang dibutuhkan petani, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun untuk memenuhi biaya produksi,” ujarnya. 

Sepanjang 2025, inflasi perdesaan menunjukkan dinamika yang cukup tajam. Pada awal tahun, tepatnya Januari ke Februari, Ib sempat turun tipis dari sekitar 120,33 menjadi 120,28. Namun, setelah itu terjadi lonjakan harga cukup signifikan. Kenaikan tertinggi terjadi pada Maret dengan peningkatan 1,85 persen, yang dipicu  meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idulfitri. 

Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS 2026 Belum Berubah! Pemerintah Ungkap Alasan dan Prosedur Kenaikannya

Setelah mencapai puncaknya pada April, harga mengalami koreksi. Penurunan terdalam terjadi pada Mei yakni 0,43 persen, seiring normalisasi permintaan pasca hari besar keagamaan.

Memasuki pertengahan tahun, tren kenaikan kembali terlihat. Pada periode Juni hingga Agustus, indeks harga meningkat hingga mencapai sekitar 124,06, didorong aktivitas ekonomi seperti pengeluaran pendidikan saat tahun ajaran baru. 

Mas’ud menegaskan bahwa dinamika itu menunjukkan kuatnya pengaruh faktor musiman terhadap inflasi di perdesaan. “IKRT juga dapat digunakan sebagai proxy inflasi perdesaan,” jelasnya. 

Baca Juga: Sinyal Kuat dari Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa! Gaji PNS 2026 Berpotensi Naik di Triwulan II?

Meski inflasi terjadi, kondisi petani tidak otomatis memburuk. Selama kenaikan harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan harga yang dibayar, kesejahteraan relatif tetap terjaga.

Dengan demikian, inflasi perdesaan di Kaltim sepanjang 2025 mencerminkan tekanan harga yang dinamis, namun masih berada dalam batas yang dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan petani. (*)

Editor : Dwi Restu A
#harga perdesaan #kaltim #inflasi