Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tiket Pesawat Mahal di Kaltim, Dipicu Geopolitik hingga Lonjakan Avtur

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 6 Mei 2026 | 21:01 WIB
PENERBANGAN: Sektor penerbangan dikenal sebagai industri dengan biaya tinggi. Kenaikan tiket jadi tantangan, terutama Kaltim dengan konektivitas darat dan laut yang terbatas.
PENERBANGAN: Sektor penerbangan dikenal sebagai industri dengan biaya tinggi. Kenaikan tiket jadi tantangan, terutama Kaltim dengan konektivitas darat dan laut yang terbatas.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kenaikan harga tiket pesawat di Kalimantan Timur belakangan ini bukan tanpa sebab. Di balik keluhan masyarakat, ada faktor global yang ikut bermain, mulai dari konflik geopolitik hingga lonjakan harga avtur yang menjadi komponen utama operasional penerbangan.

Harga tiket yang terus merangkak naik menjadi perbincangan luas. Bahkan, bagi masyarakat Kaltim, pesawat bukan lagi sekadar moda transportasi alternatif, melainkan kebutuhan utama untuk mobilitas antarwilayah.

Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah 7 Balikpapan, Ferdinan Nurdin, menegaskan bahwa kondisi global menjadi pemicu utama. Terutama konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada harga bahan bakar penerbangan.

Baca Juga: Penyebab Solar Langka di Balikpapan, DPRD Kaltim: 95 Persen Antrean Adalah Truk Perusahaan

“Bahwasanya kondisi geopolitik saat ini khususnya Timur Tengah sedang tidak baik-baik saja yang mana hal ini pastinya juga berdampak kepada seluruh negara,” ujarnya.

Dampak itu terasa pada harga avtur yang melonjak. Padahal, avtur merupakan komponen penting dalam operasional maskapai. Tidak hanya itu, fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah juga memperburuk kondisi.

“Yang kita ketahui bahwa avtur itu sendiri merupakan suatu komponen dalam hal operasional penerbangan yang cukup signifikan kontribusinya,” jelasnya.

Menurutnya, industri penerbangan sangat bergantung pada komponen impor, termasuk suku cadang pesawat yang menggunakan mata uang dolar. Ketika dolar menguat, biaya operasional ikut meningkat.

Baca Juga: Dipicu Dugaan Pelecehan Istri, Pria di Balikpapan Aniaya Korban hingga Koma 6 Bulan

Sehingga membuat maskapai harus menyesuaikan biaya operasional agar tetap bertahan. Apalagi, sektor penerbangan dikenal sebagai industri dengan biaya tinggi. Ferdinan menegaskan, pemerintah tidak tinggal diam.

Namun, di tengah kondisi global yang tidak stabil, penyesuaian harga menjadi langkah yang tidak terhindarkan. “Akibat dari situlah akhirnya juga terdampak terkait dengan kegiatan operasional di Indonesia,” imbuhnya.

Kenaikan harga tiket menjadi tantangan tersendiri, terutama di Kaltim yang konektivitas darat dan lautnya masih terbatas. Membuat ketergantungan terhadap transportasi udara semakin tinggi. Di tengah situasi tersebut, pemerintah dihadapkan pada dilema, menjaga keberlangsungan maskapai sekaligus memastikan tiket tetap terjangkau bagi masyarakat. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Tiket pesawat mahal Kaltim #Harga avtur naik Indonesia #Geopolitik Timur Tengah #Otoritas Bandara Balikpapan #Kenaikan tiket pesawat 2026