Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Harga Naik Tipis, Inflasi Kaltim April 2026 Tembus 2,50 Persen

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 6 Mei 2026 | 21:30 WIB
KOMODITAS: Dari sektor perikanan, ikan layang jadi salah satu penyumbang utama inflasi. RORO/KP
KOMODITAS: Dari sektor perikanan, ikan layang jadi salah satu penyumbang utama inflasi. RORO/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kenaikan harga sejumlah kebutuhan mulai terasa di Kalimantan Timur. Meski belum melonjak tajam, tren inflasi tahunan menunjukkan tekanan yang tetap perlu diwaspadai, terutama dari sektor pangan hingga transportasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) pada April 2026 tercatat sebesar 2,50 persen. Ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,70 pada April 2025 menjadi 111,42 pada April 2026.

"Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi April 2026 tercatat 0,11 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 1,48 persen," jelas Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai. Kenaikan merupakan akumulasi tekanan harga sejak awal tahun.

Baca Juga: Dari Ruang Redaksi ke Sepiring Nasi Pecel, Ini Bambang Janu Isnoto Meracik Bisnis Kuliner dengan Naluri Jurnalis

Jika ditelusuri lebih dalam, hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kenaikan 2,61 persen. Disusul kelompok transportasi yang naik cukup tinggi 3,66 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 12,21 persen.

"Selain itu, kelompok pendidikan juga mengalami kenaikan 2,44 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 1,37 persen, sementara kelompok kesehatan meningkat 1,58 persen. Kenaikan juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki 0,63 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,30 persen," lanjutnya.

Di sisi lain, hanya satu kelompok yang mengalami penurunan indeks, yakni rekreasi, olahraga, dan budaya 0,07 persen. Namun, kontribusinya terhadap inflasi dinilai tidak signifikan.

Baca Juga: Diversifikasi Ekonomi Mulai Membuahkan Hasil, Ekonomi Kaltim Tetap Tumbuh meski Sektor Tambang Terkontraksi

Dari sisi andil inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi terbesar 0,79 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,83 persen, serta transportasi 0,47 persen. Sementara kelompok pendidikan menyumbang 0,10 persen dan restoran 0,14 persen.

Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang utama inflasi. "Di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, beras, sigaret kretek mesin (SKM), hingga berbagai jenis ikan seperti ikan layang, tongkol, dan kembung.

Selain itu, komoditas seperti tomat, semangka, minyak goreng, kopi bubuk, hingga biaya pendidikan dan jasa seperti bimbingan belajar turut mendorong inflasi," papar Mas’ud.

Sebaliknya, terdapat komoditas yang menahan laju inflasi atau bahkan memicu deflasi, seperti tas sekolah dan makanan hewan peliharaan.

Dari sisi wilayah, seluruh daerah cakupan IHK di Kaltim mengalami inflasi tahunan. Samarinda mencatat inflasi tertinggi 2,92 persen dengan IHK 111,50. Sementara inflasi terendah terjadi di Penajam Paser Utara 2,10 persen dengan IHK 111,66.(*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#inflasi Kaltim 2026 #Harga ikan layang naik #Harga beras Kaltim #Inflasi Samarinda 2026 #Komoditas penyumbang inflasi