KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Awal tahun yang biasanya menjadi momentum optimisme ekonomi justru dibuka dengan tekanan di Kalimantan Timur. Pada triwulan I-2026, ekonomi Kaltim tercatat mengalami kontraksi sebesar 3,69 persen dibandingkan triwulan sebelumnya atau quarter-to-quarter (q-to-q).
Penurunan itu dipicu melemahnya sejumlah sektor strategis, terutama pertambangan dan industri pengolahan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Mas’ud Rifa’i, mengatakan sebagian besar lapangan usaha mengalami penurunan kinerja sepanjang awal 2026.
Baca Juga: Sidak SPBU Sangatta, Polisi Temukan Pengisian Pertalite Berulang dalam Sehari
Sektor pertambangan dan penggalian menjadi yang paling dalam mengalami kontraksi, yakni mencapai 6,72 persen. Kondisi itu turut memberi dampak besar terhadap perlambatan ekonomi daerah.
Selain pertambangan, sektor administrasi pemerintahan juga terkontraksi sebesar 6,36 persen. Sementara industri pengolahan turun 5,51 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Meski demikian, di tengah tekanan ekonomi, sejumlah sektor masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif.
“Masih terdapat enam lapangan usaha yang mampu tumbuh secara positif pada periode ini, di antaranya perdagangan, transportasi, dan informasi komunikasi,” jelas Mas’ud.
Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi secara q-to-q, yakni sebesar 7,59 persen.
Kemudian, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 3,25 persen. Adapun sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan sebesar 1,85 persen.
Dari sisi kontribusi terhadap penurunan ekonomi, sektor pertambangan menjadi penyumbang negatif terbesar dengan andil minus 2,99 persen.
Baca Juga: Siapa Wakil Kaltim di Nasional? Intip Ketatnya Tahapan Seleksi 30 Pasang Calon Paskibraka 2026
Disusul industri pengolahan yang memberi andil negatif sebesar 1,09 persen dan sektor administrasi pemerintahan sebesar 0,13 persen.
Di sisi lain, sektor perdagangan menjadi penahan laju kontraksi ekonomi dengan kontribusi positif sebesar 0,50 persen. Sementara sektor transportasi dan pergudangan menyumbang 0,11 persen, serta informasi dan komunikasi sebesar 0,04 persen. (*)
Editor : Ery Supriyadi