Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Inflasi Balikpapan April 2026 Melandai Jadi 2,19 Persen, BPS Catat Deflasi Dipicu Turunnya Harga Pangan dan Tiket Pesawat

Ulil Mu'Awanah • Kamis, 7 Mei 2026 | 18:09 WIB
Harga cabai rawit yang sebelumnya sempat tinggi, belakangan mulai turun.
Harga cabai rawit yang sebelumnya sempat tinggi, belakangan mulai turun.

KALTIMPOST.ID-Laju inflasi Balikpapan pada April 2026 menunjukkan tren yang mulai melandai dibandingkan bulan sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 2,19 persen. Angka itu lebih rendah dibanding Februari 2026 yang sempat menyentuh 4,14 persen dan Maret 2026 sebesar 2,95 persen.

Di sisi lain, secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), Balikpapan justru mengalami deflasi sebesar 0,05 persen.

Kondisi itu memperlihatkan mulai adanya penurunan harga pada sejumlah komoditas utama yang sebelumnya menjadi pemicu lonjakan inflasi.

Baca Juga: Ketua Komisi X DPR RI Minta Revitalisasi Sekolah di Kaltim Fokus pada Kualitas Pembelajaran dan Transformasi Pendidikan

Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pergerakan harga yang lebih terkendali dibanding awal tahun.

“Pada April 2026 Balikpapan mengalami inflasi year-on-year sebesar 2,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,27. Namun secara month-to-month terjadi deflasi sebesar 0,05 persen. Ini menandakan ada penurunan harga pada beberapa komoditas strategis masyarakat,” kata Marinda.

Menurutnya, deflasi bulanan dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi.

Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi antara lain daging ayam ras, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, bahan bakar rumah tangga, jeruk, angkutan udara, hingga sayuran seperti ketimun dan kacang panjang.

Penurunan harga angkutan udara menjadi salah satu faktor penting karena Balikpapan merupakan kota jasa dan mobilitas tinggi. Setelah lonjakan pergerakan masyarakat pada awal tahun dan momentum libur panjang, tarif transportasi udara mulai mengalami penyesuaian.

Selain itu, harga cabai rawit yang sebelumnya sempat tinggi mulai terkoreksi akibat membaiknya distribusi pasokan dari daerah penghasil. Kondisi cuaca yang lebih stabil juga membantu menjaga ketersediaan sejumlah bahan pangan.

Meski demikian, tekanan inflasi tetap terjadi pada beberapa komoditas lain. BPS mencatat semangka, tomat, minyak goreng, kangkung, bawang merah, hingga bensin masih memberikan sumbangan inflasi secara bulanan.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: IKIP PGRI Ungkap Jumah Guru ASN di Kaltim Kurang, Imbas Efisiensi Anggaran, Kualitas Pendidikan di Tingkat Sekolah Teranca

Ekonom lokal menilai kondisi inflasi Balikpapan saat ini masih berada pada level aman. Angka 2,19 persen masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional dan mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap bergerak.

Di tengah melandainya inflasi, daya beli masyarakat juga mulai mengalami penyesuaian. Pelaku usaha ritel mengaku konsumen kini lebih selektif dalam membelanjakan uang, terutama untuk kebutuhan sekunder.

Sejumlah pusat perbelanjaan di Balikpapan masih mencatat aktivitas cukup stabil, namun transaksi cenderung terkonsentrasi pada kebutuhan pokok, makanan, dan produk rumah tangga.

Marinda Dama menyebutkan pengendalian inflasi membutuhkan sinergi lintas sektor, terutama menjaga distribusi barang dan stabilitas pasokan.

“Yang paling penting adalah memastikan pasokan tetap tersedia dan distribusi berjalan lancar. Ketika distribusi terganggu, harga akan cepat naik di Balikpapan karena kota ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah,” ujarnya. (rd)

Editor : Romdani.
#ibu kota nusantara #tiket pesawat #cabai rawit #Kutai Barat #inflasi Balikpapan