Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kisah Ratnah, Merajut Mimpi dari Sisa Kain yang Terbuang

Nasya Rahaya • Sabtu, 9 Mei 2026 | 20:21 WIB
UNJUK GIGI: Mulai 2023, busana-busana rancangannya sering diikutkan dalam berbagai peragaan koleksi designer setingkat provinsi Kaltim.
UNJUK GIGI: Mulai 2023, busana-busana rancangannya sering diikutkan dalam berbagai peragaan koleksi designer setingkat provinsi Kaltim.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tidak pernah bermimpi jadi desainer, Ratnah yang menghabiskan masa mudanya di bangku sekolah akuntansi dan akrab dengan angka dan laporan keuangan kini justru lebih dekat dengan gunting dan jarum jahit. Pundi-pundi rupiah pun terus mengalir dari hobi barunya tersebut.

Setelah menikah dan punya anak, Ratnah memilih berhenti bekerja untuk fokus jadi ibu rumah tangga, mengurus keluarga di rumah, di Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran, Samarinda. Tapi diam di rumah bukan berarti berhenti bergerak. "Sudah terbiasa punya penghasilan sendiri. Jadi mikir apa yang bisa saya kerjakan dan anak masih tetap terurus di rumah," kenangnya.

Jawabannya datang dari hal yang paling sederhana yakni jarum dan benang. Sekitar 2015, Ratnah mulai menerima permak baju dari tetangga. Kecilkan baju yang kebesaran, potong ujung celana, rapikan jahitan. Tidak muluk-muluk, tidak ada target besar, sekadar mengisi waktu luang sambil bisa memperhatikan buah hati di rumah.

Baca Juga: Krisis Guru, Sekolah Pertahankan Honorer demi Kelangsungan Belajar

Satu dua tetangga datang. Dari mulut ke mulut, orderan pelan-pelan mengalir. Keahlian ini dia dapatkan setelah ikut pelatihan UMKM dari kelurahan Bantuas yang dilaksanakan Disporapar Samarinda. Tak ingin hanya permak baju, Ratnah ingin lebih jauh, 2019 dia bergabung dengan komunitas desainer lokal, Fascreya, hingga akhirnya ia mulai berani menyebut dirinya bukan sekadar tukang jahit, tapi desainer.

Tapi yang membuat Ratnah berbeda bukan sekadar perjalanan. Ada sesuatu yang lebih menarik dari itu, dari caranya memandang limbah dan sampah dari kain-kain yang dia hasilkan. Setiap kali ia menyelesaikan satu busana, ia sadar ada sisa. Potongan-potongan kecil, guntingan perca yang tidak terpakai, tumpukan kain yang orang lain mungkin langsung buang ke tempat sampah.

Di sana, Ratnah justru melihatnya sebagai bahan baku. "Dalam satu baju, kurang lebih 10 sampai 15 persen dari kain itu jadi limbah. Saya manfaatkan. Kenapa enggak?" terangnya.

Baca Juga: Guru Honorer Dihapus di Kaltim, 372 Tenaga Pengganti Kini Mengajar Tanpa SK

Dari situ lahirlah konsep yang kini jadi ciri khasnya yakni zero waste dan sustainable fashion. Salah satu koleksinya yang paling laris adalah busana berbahan batik asli dengan teknik zero waste, dalam satu lembar kain, tidak ada yang terbuang sama sekali. Potongan terakhir pun masih punya tempat dalam desainnya.

Mulai 2023, busana-busana rancangannya sering diikutkan dalam berbagai peragaan koleksi designer setingkat provinsi Kaltim. Dia juga termasuk termasuk sebagai binaan Bank Indonesia. Busana hasil karyanya dijual dari Rp 300-600 ribu. "Dari karya-karya saya, limbahnya saya jadikan tas, tote bag, detail-detail di busana. Supaya limbahnya enggak terlalu banyak," katanya.

Saat ini, walaupun masih dalam sekala kecil Ratnah masih mengelola limbah dari hasil pekerjaannya sendiri, kalau sudah besar, tidak menutup kemungkinan dirinya akan mengelola limbah dari designer lainnya.  Busana-busananya, kebanyakan ready to wear dengan sentuhan detail tangan, tergantung bahan yang digunakan.

Ke depan, ia ingin merambah ke jaket dan vest. Masih dengan prinsip yang sama, pakai apa yang ada, buang sesedikit mungkin. Semua itu ia jalankan dari rumah, di antara urusan dapur dan anak-anak, lewat galerinya yang ia beri nama Yusara Gallery. "Untuk saat ini, tiap bulan ada saja orderan. Alhamdulillah,” tutuprnya dengan bersyukur. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Ratnah Samarinda #desainer Samarinda #zero waste fashion #sustainable fashion Kaltim #UMKM Samarinda