KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Percakapan pagi hingga jelang siang hari itu sebenarnya berlangsung santai. Namun di balik senyum dan tawa kecil yang sesekali muncul, tersimpan suasana emosional saat Kepala SKK Migas Perwakilan Kalimantan Sulawesi (Kalsul) Azhari Idris, menyampaikan salam perpisahan kepada awak media di Kota Minyak, Jumat (15/5).
Selama bertugas, Azhari mengaku tidak ingin hanya dikenal sebagai pejabat yang mengawasi produksi migas semata. Ia ingin industri hulu migas juga mampu memberi ruang tumbuh bagi perusahaan lokal dan masyarakat daerah. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam industri migas adalah bagaimana menciptakan keterlibatan pelaku usaha daerah agar tidak hanya menjadi penonton di tengah besarnya investasi sektor energi.
Karena itu, ia merasa bersyukur selama memimpin SKK Migas Kalsul dapat membantu membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk ikut masuk dalam rantai industri hulu migas. “Saya bisa membantu perusahaan lokal menjadi bagian dari industri ini dan mendapatkan kesempatan yang baik dalam sektor hulu migas,” tuturnya.
Baca Juga: Kampung Narkoba di Samarinda Digerebek, Polisi Sita Ratusan Paket Sabu dan Uang Tunai
Azhari melihat Kaltim sebagai daerah yang memiliki kekuatan ekonomi besar. Tidak hanya karena kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang heterogen dan terbuka terhadap perkembangan industri. Menurut dia, sektor minyak dan gas bumi masih akan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah dalam waktu yang panjang.
Bahkan di tengah pembahasan global mengenai transisi energi, potensi migas Kalimantan Timur dinilai masih sangat menjanjikan. Ia menyebut kawasan Selat Makassar masih menyimpan cadangan minyak dan gas bumi dalam jumlah besar yang dapat menopang produksi energi nasional pada masa mendatang.
Selain kawasan lepas pantai Selat Makassar, Azhari juga menyoroti Delta Mahakam yang hingga kini tetap menjadi kawasan strategis migas nasional. Meski sebagian besar sumurnya sudah memasuki kategori mature atau tua, kawasan tersebut masih terus berproduksi dan memiliki potensi cadangan yang cukup besar.
Karena itu, ia mengajak masyarakat Kaltim untuk melihat sektor migas sebagai berkah sumber daya alam yang perlu dijaga bersama. “Karena itu kita harus berbangga dan bersyukur tinggal dalam daerah yang mendapatkan rahmat sumber daya alam luar biasa,” ujarnya.
Baca Juga: Iduladha 2026 Resmi 27 Mei, Kemenag Umumkan Hasil Sidang Isbat Awal Zulhijah 1447 H
Tak sedikit kenangan yang ia tinggalkan di Bumi Etam. Bagi Azhari, provinsi ini bukan hanya wilayah penugasan, melainkan tempat yang telah membentuk perjalanan hidup dan kariernya selama puluhan tahun di industri hulu minyak dan gas bumi. Bahkan, setengah dari umurnya dihabiskan untuk Kaltim. "Saya bekerja pada industri hulu migas selama 25 tahun sampai saat ini,” kata Azhari.
Kalimat itu menggambarkan betapa panjang hubungan dirinya dengan Kaltim. Azhari pertama kali datang ke Balikpapan pada 2001 ketika bergabung bersama perusahaan migas Unocal Indonesia. Sejak saat itu, kehidupan profesionalnya nyaris tidak pernah jauh dari industri energi di Benua Etam.
Ia sempat berpindah tugas ke Jakarta dan Aceh. Namun pada 2021, Azhari kembali lagi ke Kalimantan Timur dan dipercaya memimpin SKK Migas Perwakilan Kalsul selama lima tahun terakhir. Kembalinya Azhari ke Balikpapan seperti mengulang kedekatan lama yang belum selesai. Kota Minyak itu bukan sekadar tempat bekerja baginya. Ada bagian kehidupan keluarga yang tumbuh di sana.
Satu anaknya juga lahir di Balikpapan. Jadi sulit baginya melupakan kota ini. "Saya bersyukur kita pernah bertemu, bersahabat, berbagi cerita, tertawa bersama,” ucapnya. Dalam kesempatan itu, Azhari juga menitipkan pesan khusus kepada media massa. Ia berharap media dapat terus membantu menjaga iklim positif industri migas di tengah masyarakat.
Menurutnya, pemahaman publik terhadap industri energi sangat penting karena sektor tersebut memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. “Saya ingin mengajak teman-teman media menjaga kebaikan ini dan mendidik masyarakat bahwa industri migas sangat penting untuk menopang ekonomi daerah,” ucapnya.
Selain itu, Azhari memperkenalkan sosok yang akan menggantikannya memimpin SKK Migas Perwakilan Kalsul, yakni Haryanto Safri. Ia menyebut penggantinya memiliki pengalaman panjang di berbagai wilayah kerja, termasuk Sumatera dan Papua-Maluku. Menurut Azhari, Haryanto merupakan sosok yang ramah serta memiliki kemampuan kuat dalam bidang operasi, informasi, dan komunikasi.
Baca Juga: Kebutuhan Modal Usaha Mulai Naik, Kredit Perbankan di Kaltim Tembus Rp199 Triliun
“Beliau orang yang sangat baik dan saya pikir bisa berbuat lebih baik dari yang sudah saya kerjakan,” katanya. Bagi Azhari, perpisahan ini bukan hanya akhir dari sebuah penugasan. Ada hubungan emosional yang terbangun selama puluhan tahun bersama masyarakat dan insan migas di Kaltim. Di akhir pertemuan, ia menyampaikan terima kasih kepada media dan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kariernya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo