Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Fakta Utang Luar Negeri Indonesia 2026: Tembus Rp7.658 Triliun, Pertumbuhan Mulai Melambat

Uways Alqadrie • Senin, 18 Mei 2026 | 12:30 WIB
Ilustrasi Jawa Pos Grup
Ilustrasi Jawa Pos Grup

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat mencapai USD433,4 miliar atau setara sekitar Rp7.658 triliun. Data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan ULN mulai melambat dibandingkan periode akhir tahun lalu.

Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar 0,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dibanding kuartal IV-2025 yang masih tumbuh 1,9 persen.

Baca Juga: Iduladha 2026 Resmi 27 Mei, Kemenag Umumkan Hasil Sidang Isbat Awal Zulhijah 1447 H

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan ULN dipengaruhi pergerakan utang sektor publik maupun sektor swasta.

BI mencatat utang luar negeri pemerintah berada di level USD214,7 miliar pada kuartal I-2026. Meski nilainya masih besar, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan akhir 2025 yang sempat tumbuh 5,5 persen secara tahunan.

Perlambatan itu disebut berkaitan dengan dinamika aliran modal asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) internasional di tengah kondisi pasar keuangan global yang masih fluktuatif.

Pemerintah disebut tetap mengelola pembiayaan utang secara hati-hati dan terukur untuk menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana hasil ULN diprioritaskan untuk pembiayaan sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, layanan publik, pembangunan konstruksi, hingga transportasi dan pergudangan.

Dari sisi struktur, mayoritas ULN pemerintah masih didominasi utang jangka panjang. Kondisi tersebut dinilai cukup aman karena dapat menekan risiko pembiayaan jangka pendek sekaligus menjaga kesinambungan fiskal nasional.

Sementara itu, BI memastikan rasio dan komposisi utang luar negeri Indonesia masih berada dalam batas yang terkendali meski tekanan ekonomi global dan nilai tukar rupiah masih menjadi perhatian pasar.

Baca Juga: Pengakuan Mengejutkan Pelaku Loker Palsu di Makassar, Mahasiswi Diikat Sebelum Diperkosa

Penurunan terjadi pada kelompok lembaga keuangan maupun perusahaan nonkeuangan. Keduanya sama-sama mengalami kontraksi secara tahunan di tengah perlambatan aktivitas ekonomi global dan tingginya tekanan pasar keuangan internasional.

Berdasarkan data BI, kontribusi terbesar ULN swasta masih berasal dari sejumlah sektor utama. Di antaranya industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, hingga sektor pertambangan.

Empat sektor tersebut menyumbang lebih dari 80 persen total utang luar negeri swasta nasional. Mayoritas pinjaman juga masih didominasi utang jangka panjang dengan porsi sekitar 76,6 persen dari keseluruhan ULN swasta.

Secara keseluruhan, BI menilai kondisi utang luar negeri Indonesia masih dalam kategori aman dan terkendali. Hal itu tercermin dari rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen.

Baca Juga: Kronologi AKP Bonar Ditangkap Polda Kaltim, Kasat Narkoba Kukar Diduga Pesan 100 Etomidate

Selain itu, struktur ULN nasional juga dinilai lebih sehat karena didominasi pembiayaan jangka panjang yang mencapai 85,4 persen dari total keseluruhan utang luar negeri Indonesia.

Editor : Uways Alqadrie
#Presiden Prabowo #bank indonesia #Purbaya Yudhi Sadewa #utang luar negeri indonesia #kementerian keuangan