KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Peta perjalanan wisata masyarakat Kaltim mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya destinasi domestik menjadi pilihan utama untuk liburan keluarga maupun perjalanan pribadi, kini negara-negara ASEAN perlahan mulai mengambil perhatian pasar. Kondisi itu dipicu harga tiket pesawat internasional yang dinilai semakin kompetitif dibanding sejumlah rute penerbangan domestik.
Situasi tersebut bahkan mulai mengubah pola pikir masyarakat dalam menentukan tujuan perjalanan. Owner Trans Borneo Tours and Travel, Joko Purwanto, menilai masyarakat kini lebih realistis dalam mempertimbangkan efisiensi biaya perjalanan. “Sekarang ini penerbangan luar negeri malah ada yang lebih murah dibanding dalam negeri. Jadi orang melihat pilihan lain untuk liburan,” ucapnya, Senin (25/5).
Menurutnya, fenomena tersebut bukan lagi sekadar tren sementara, melainkan awal dari perubahan perilaku wisata masyarakat kelas menengah di Kaltim. Negara-negara seperti Malaysia, Singapura dan Brunei mulai dipandang sebagai destinasi yang mudah dijangkau dengan biaya relatif terukur. Selain harga tiket yang kompetitif, faktor jarak tempuh yang relatif dekat juga menjadi pertimbangan.
“Orang sekarang tinggal memilih mau ke mana. Kadang ke Malaysia bisa lebih murah dibanding perjalanan domestik,” kata Joko. Ia melihat berkembangnya rute internasional dari Balikpapan membuka ruang baru bagi industri perjalanan lokal. Menurutnya, masyarakat mulai memahami bahwa wisata luar negeri tidak lagi identik dengan biaya mahal seperti beberapa tahun lalu.
Perubahan tersebut juga dipengaruhi kemudahan akses informasi perjalanan, promosi maskapai, hingga meningkatnya minat masyarakat terhadap pengalaman wisata lintas negara. Joko mengatakan, dalam beberapa tahun ke depan pasar wisata regional ASEAN berpotensi tumbuh lebih cepat dibanding sebelumnya, terutama untuk segmen keluarga, pelajar dan perjalanan kelompok.
“Ke depan pasar wisata ASEAN ini akan besar. Apalagi kalau konektivitas penerbangan terus bertambah,” ujarnya. Ia menilai apabila rute menuju Vietnam dan Thailand mulai dibuka dari Balikpapan, maka persaingan industri perjalanan akan semakin dinamis. Agen perjalanan pun diperkirakan akan mulai memperbanyak paket wisata internasional dengan harga yang lebih kompetitif.
Baca Juga: Modal Hijau Kaltim: Saatnya Potensi Terealisasi
“Sekarang sudah ada Brunei, Malaysia dan Singapura. Kalau nanti Vietnam dan Thailand juga masuk, itu akan sangat membantu,” katanya. Di sisi lain, perubahan arah wisata masyarakat juga dipengaruhi kondisi ekonomi yang membuat konsumen semakin selektif dalam mengatur pengeluaran. Harga tiket menjadi faktor dominan dalam menentukan destinasi, bahkan mengalahkan preferensi lokasi wisata.
Ditambahkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto, perkembangan penerbangan internasional dapat menjadi peluang besar bagi industri pariwisata daerah. Menurutnya, meningkatnya mobilitas masyarakat akan ikut menggerakkan sektor hotel, restoran dan usaha wisata lainnya.
“Kalau konektivitas penerbangan semakin banyak, tentu sektor hotel, restoran dan pariwisata juga ikut bergerak,” ujarnya. Ia menilai Balikpapan memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang internasional di Kalimantan, terlebih dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diprediksi meningkatkan arus perjalanan regional.
“Ini momentum yang bagus untuk Balikpapan agar lebih terbuka dengan pasar internasional,” katanya. Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat, wisata internasional kini tidak lagi dipandang sebagai perjalanan eksklusif. Bagi sebagian warga Kalimantan Timur, liburan ke negara tetangga justru mulai dianggap sebagai pilihan yang lebih masuk akal secara ekonomi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo