BALIKPAPAN — Bertambahnya penerbangan internasional dari Balikpapan mulai membuka peluang baru bagi industri perjalanan dan pariwisata di Kaltim. Pelaku usaha wisata melihat potensi pasar ASEAN akan menjadi salah satu sektor yang tumbuh paling cepat dalam beberapa tahun mendatang.
Selain mendorong mobilitas wisatawan, peningkatan konektivitas penerbangan juga diprediksi memperluas pangsa pasar maskapai, agen perjalanan, hotel hingga sektor pendukung pariwisata lainnya. “Sekarang sudah ada Brunei, Malaysia dan Singapura. Kalau nanti Vietnam dan Thailand juga masuk, itu akan sangat membantu,” harap Owner Trans Borneo Tours and Travel Joko Purwanto, Selasa (26/5).
Ia mengatakan Balikpapan kini mulai memiliki fondasi sebagai gerbang perjalanan internasional baru di Kalimantan. Menurutnya, keberadaan rute menuju Malaysia, Singapura dan Brunei telah memberikan pilihan perjalanan yang lebih luas bagi masyarakat. Menurutnya, penambahan frekuensi penerbangan internasional akan sangat menentukan pertumbuhan pasar wisata regional.
Baca Juga: Usung Konsep Waterfront Lifestyle, Banyak Tenant Baru Bakal Hadir di Central Park Borneo Bay
Semakin banyak pilihan jadwal dan maskapai, maka harga tiket dinilai akan semakin kompetitif. Kondisi itu berpotensi memperbesar jumlah masyarakat yang memilih bepergian ke luar negeri melalui Balikpapan. “Ke depan pasar wisata ASEAN ini akan besar. Apalagi kalau konektivitas penerbangan terus bertambah,” tuturnya.
Joko menjelaskan, selama ini sebagian masyarakat Kalimantan Timur masih harus transit melalui Jakarta atau Surabaya untuk menuju sejumlah negara di Asia Tenggara. Dengan bertambahnya jalur langsung dari Balikpapan, waktu perjalanan menjadi lebih efisien. Hal tersebut dinilai akan meningkatkan minat wisatawan sekaligus memperbesar potensi perjalanan bisnis regional.
Menurutnya, pasar terbesar yang mulai berkembang berasal dari segmen keluarga, pelajar, hingga perjalanan komunitas yang mencari biaya perjalanan lebih terjangkau. “Sekarang ini penerbangan luar negeri malah ada yang lebih murah dibanding dalam negeri. Jadi orang mulai melihat pilihan lain untuk liburan,” ujarnya.
Sebelumnya, maskapai Brunei Darussalam, Royal Brunei Airlines (RBA) menyatakan keseriusannya memperluas pasar penerbangan internasional dari Balikpapan. Tidak hanya menyasar wisata umum, maskapai tersebut kini membidik segmen wisata religi, pendidikan internasional, hingga medical tourism sebagai pasar potensial baru dari Kalimantan Timur.
Sales & Marketing Manager Royal Brunei Airlines, Gloria Lekransy mengungkap, Balikpapan dipilih karena memiliki potensi penumpang internasional yang besar, terutama setelah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai berjalan.
“Harapannya kita bisa bawa penumpang dari Kalimantan terutama untuk going abroad. Jadi misalnya yang mau ke Korea, Jepang, atau London, mereka tidak perlu transit lagi di Jakarta atau Surabaya. Mereka bisa langsung ke Brunei lalu beyond ke negara tujuan,” ungkapnya.
RBA resmi kembali membuka rute Balikpapan–Brunei sejak 19 Februari 2025 setelah sempat berhenti pasca pandemi Covid-19. Saat ini penerbangan tersedia dua kali dalam seminggu, yakni setiap Rabu dan Sabtu.
Menariknya, tingkat keterisian penumpang atau load factor penerbangan tersebut disebut sudah mencapai lebih dari 80 persen di setiap jadwal keberangkatan. Kondisi ini menunjukkan tingginya minat masyarakat Kalimantan Timur untuk penerbangan internasional langsung tanpa transit di kota besar Indonesia.
“Kebanyakan untuk leisure atau liburan. Tapi khusus flight hari Sabtu itu juga ada yang lanjut untuk umrah karena kita punya koneksi penerbangan ke Jeddah,” katanya. Menurut Gloria, pasar wisata religi dari Balikpapan dinilai cukup besar karena masyarakat Kalimantan Timur memiliki antusiasme tinggi terhadap perjalanan ibadah umrah.
Selain wisata religi, Royal Brunei juga mulai masuk ke pasar layanan kesehatan lintas negara. Perusahaan penerbangan tersebut telah menjalin kolaborasi dengan sejumlah rumah sakit di Brunei guna menarik wisatawan medis dari Indonesia. “Kita juga ada kolaborasi dengan beberapa rumah sakit lokal di Brunei untuk medical tourism. Jadi kita memang lagi berusaha mencapai market segment baru,” jelasnya.
Baca Juga: Siap-Siap Cek Rekening! Gaji ke-13 Pensiunan PNS Cair, Taspen Resmi Tetapkan Tanggalnya
Di sisi lain, Gloria mengakui tantangan utama saat ini masih terletak pada branding dan promosi pasar di Kalimantan. Karena itu, perusahaan mulai memperluas strategi promosi dari media sosial ke radio, televisi lokal, hingga kolaborasi bersama influencer. “Kalau secara branding mungkin masih bisa lebih diperbanyak lagi. Jadi kita terus improvisasi, collab dengan televisi lokal, radio, sampai influencer supaya Royal Brunei Airlines lebih dikenal di Kalimantan,” ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo