Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

IHSG Bergejolak dan Rupiah Tertekan, Investor Disarankan Berburu Saham Dividen

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 30 Mei 2026 | 19:13 WIB
Bambang Saputra, Dosen STIE Balikpapan.
Bambang Saputra, Dosen STIE Balikpapan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Gejolak pasar keuangan yang ditandai pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendorong investor untuk mengubah strategi investasinya. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik, investor dinilai perlu lebih fokus pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat serta rutin membagikan dividen.

Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan Bambang Saputra mengatakan, kondisi yang terjadi saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang menekan pasar keuangan berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sementara dari sisi domestik, kebutuhan dolar yang tinggi untuk impor, pembayaran dividen kepada investor asing, serta kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Baca Juga: Berkali-kali Ganti Usaha, Rizal Ramadhan Mantap Bangun Taman Kelinci Oppung

"Kalau kita bicara kondisi sekarang, pilihan yang lebih aman bagi investor saham adalah fokus pada jangka menengah dan panjang. Pilih perusahaan yang secara konsisten membagikan dividen tinggi, bukan lagi mengejar capital gain jangka pendek," kata Bambang.

Menurutnya, strategi berburu saham dividen menjadi lebih relevan dibandingkan mengandalkan keuntungan dari selisih harga beli dan jual saham yang sangat dipengaruhi volatilitas pasar.

Beberapa emiten yang dinilai memiliki rekam jejak pembagian dividen yang baik antara lain sektor perbankan besar seperti BCA, BRI dan Bank Mandiri. Selain itu, emiten konsumsi seperti Unilever dan perusahaan energi juga masih menarik karena rutin memberikan dividen kepada pemegang saham.

Bambang menjelaskan bahwa keuntungan investor dari dividen lebih bergantung pada kinerja fundamental perusahaan dibandingkan fluktuasi nilai tukar maupun gejolak pasar harian.

Baca Juga: Dessert 28 Finest Balikpapan Bikin Sulit Move On

Ia memperkirakan kondisi rupiah masih memiliki peluang membaik dalam beberapa bulan mendatang seiring langkah pemerintah menjaga stabilitas ekonomi. Nilai tukar rupiah bahkan berpotensi kembali bergerak menuju kisaran Rp 17.500 per dolar apabila berbagai faktor penekan mulai mereda.

"Kalau melihat ke depan, saya optimistis pemerintah tidak akan diam. Ada peluang kondisi kembali membaik setelah berbagai tekanan saat ini berkurang," ujarnya.

Meski demikian, investor tetap diingatkan untuk memperhatikan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi. Bagi investor agresif, penurunan IHSG justru dapat menjadi momentum membeli saham dengan harga lebih rendah untuk memperoleh keuntungan saat pasar kembali menguat.

"Namun bagi investor konservatif, pendekatan berbasis dividen tetap sebagai pilihan yang lebih aman dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi saat ini," jelasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#saham dividen #strategi investasi 2026 #saham perbankan #investor saham #investasi saham