KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kenaikan harga bahan baku yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak serta-merta menurunkan minat masyarakat terhadap konsumsi kopi. Fenomena tersebut terlihat dari kondisi yang dialami jaringan 28 Coffee yang hingga kini masih mencatatkan permintaan konsumen yang relatif stabil.
Manager dan Business Development 28 Coffee Qiqie Biannt, menilai kopi saat ini telah mengalami transformasi dari sekadar minuman menjadi bagian dari kebutuhan harian masyarakat. “Kalau untuk penurunan itu sebenarnya kembali lagi coffee sudah bukan sekadar gaya hidup, tetapi menjadi kebutuhan. Orang membutuhkan kafein sebelum kerja, sebelum ke kantor, bahkan sebelum sekolah atau kuliah,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat industri kopi memiliki karakteristik yang berbeda dibanding beberapa sektor konsumsi lainnya. Konsumen tetap datang ke kedai kopi karena kebutuhan akan kafein dan ruang sosial yang ditawarkan oleh kafe.
Meski demikian, kenaikan harga bahan baku tetap memberikan tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. 28 Coffee mengakui sempat melakukan penyesuaian harga jual beberapa menu setelah biaya produksi meningkat. Namun, kenaikan harga tersebut dilakukan secara terbatas agar tetap dapat dijangkau berbagai kalangan.
Baca Juga: Kasus Hanania Travel Rp60 Miliar Jadi Peringatan, Kemenhaj Balikpapan Minta Jemaah Lebih Waspada
“Beberapa bulan lalu memang ada bahan baku yang naik. Kami juga menyesuaikan harga jual, tetapi tidak terlalu tinggi. Ada yang naik seribu rupiah, ada yang dua ribu rupiah saja,” ujar Qiqie.
Ia menegaskan bahwa perusahaan lebih memilih menjaga kualitas produk dibanding melakukan penghematan yang berpotensi mengubah cita rasa minuman. Strategi tersebut dianggap penting untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.
“Prinsip kami, meskipun ada bahan yang naik, kualitas rasa tetap harus dijaga. Itu yang sangat kami utamakan supaya kepercayaan customer tetap terjaga,” katanya.
Menurut Qiqie, salah satu faktor yang membuat daya beli konsumen tetap terjaga adalah posisi harga produk yang masih berada pada kisaran terjangkau, yakni sekitar Rp 20 ribuan per gelas. Harga tersebut memungkinkan pasar yang disasar menjadi lebih luas, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran hingga keluarga.
Baca Juga: Sentimen Global Mengintai, OJK Pastikan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Domestik Tetap Solid
“Kami bersyukur market kami mencakup semuanya. Orang kantoran masuk, family juga masuk. Selain karena harga masih terjangkau, mereka juga sudah suka dengan taste dari 28 Coffee,” ujarnya.
Dari sisi produk, perusahaan juga menerapkan strategi penyesuaian rasa agar dapat diterima lebih banyak segmen konsumen. Untuk menu kopi susu misalnya, karakter rasa tidak dibuat terlalu kuat sehingga tetap nyaman dinikmati oleh pelanggan yang bukan penikmat kopi berat.
“Kalau kopi susunya terlalu strong, orang yang bukan coffee addict tidak bisa menikmati. Jadi kami buat lebih universal. Tapi untuk yang suka kopi kuat tetap bisa request double shot atau triple shot,” jelasnya.
Pendekatan tersebut dinilai menjadi salah satu kunci dalam mempertahankan basis pelanggan di tengah persaingan industri kopi yang semakin ketat. Alih-alih hanya menyasar pecinta kopi murni, 28 Coffee mencoba merangkul pasar yang lebih luas dengan menawarkan produk yang fleksibel dan mudah diterima berbagai kalangan.
Di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional, strategi menjaga kualitas sekaligus mempertahankan keterjangkauan harga menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha kopi. Namun hingga saat ini, 28 Coffee mengaku belum merasakan dampak signifikan terhadap penurunan daya beli konsumen.
“Alhamdulillah sampai sekarang masih oke. Kami tetap menjaga kualitas dan harga agar masih masuk di kantong pelajar maupun mahasiswa,” tutup Qiqie. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo