KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mulai memukul sektor transportasi wisata. Kenaikan harga suku cadang dan biaya perawatan membuat sejumlah operator memilih menghentikan operasional armadanya daripada terus menanggung kerugian.
Owner Trans Borneo Adventure Tours & Travel Joko Purwanto mengungkapkan, banyak pelaku usaha transportasi wisata kini berada dalam posisi sulit karena biaya operasional meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
“Sudah banyak teman-teman yang menyetop operasional busnya. Bukan karena tidak ada pekerjaan, tetapi karena biaya operasional dan suku cadangnya sangat mahal,” tuturnya.
Menurut Joko, sebagian besar komponen kendaraan wisata masih bergantung pada produk impor. Akibatnya, setiap kenaikan kurs dolar langsung berdampak pada harga suku cadang yang harus dibeli oleh operator.
“Suku cadang sekarang mengikuti kurs dolar. Kalau dolar naik, otomatis harga komponen ikut naik. Ini yang sangat membebani pengusaha transportasi,” ujarnya.
Ia memperkirakan kenaikan biaya operasional yang terjadi saat ini sudah mencapai sekitar 10 persen dibandingkan sebelumnya. Angka tersebut dinilai cukup besar bagi usaha transportasi yang margin keuntungannya relatif tipis.
“Bagi perusahaan besar mungkin bisa ditahan, tapi bagi pelaku usaha yang armadanya terbatas, kenaikan seperti ini sangat terasa,” ucapnya.
Kondisi tersebut membuat banyak operator mengambil langkah konservatif dengan mengurangi jumlah armada yang beroperasi. Sebagian kendaraan bahkan sengaja diparkir dalam jangka waktu tertentu untuk menekan kerugian.
Baca Juga: Kadin Balikpapan Diminta Kompak Hadapi Arus Investasi IKN, Pengusaha Lokal Jangan Jalan Sendiri
“Lebih baik diistirahatkan daripada harus nombok setiap hari. Kalau dipaksakan jalan terus, kerugiannya bisa lebih besar,” kata Joko.
Namun keputusan menghentikan operasional kendaraan bukan tanpa risiko. Kendaraan yang tidak digunakan tetap membutuhkan biaya pemeliharaan rutin agar tidak mengalami kerusakan.
“Kalau kendaraan berhenti beroperasi, biaya perawatan tetap ada. Tetapi kalau dijual sekarang juga sulit karena harga jualnya tinggi dan daya saingnya rendah,” ungkapnya.
Joko menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah karena sektor transportasi wisata merupakan bagian penting dalam rantai industri pariwisata nasional.
“Kalau transportasi terganggu, otomatis sektor wisata juga akan terdampak. Karena transportasi adalah urat nadi perjalanan wisata,” tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo