KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pemprov Kaltim menegaskan arah pembangunan ekonomi daerah tidak lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (SDA) semata. Setelah selama puluhan tahun menjadi penopang energi nasional, kini mereka akan bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis nilai tambah, teknologi, dan industri berkelanjutan.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur Bambang Arwanto mengatakan tantangan pembangunan saat ini bukan lagi sekadar menghasilkan energi dan komoditas tambang dalam jumlah besar, tetapi bagaimana mengelolanya secara lebih efisien serta mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, Kaltim memiliki posisi strategis dalam sektor energi nasional. Namun perubahan lanskap ekonomi global menuntut daerah penghasil sumber daya alam untuk melakukan transformasi agar tidak terjebak dalam ketergantungan terhadap komoditas primer.
Baca Juga: Ekspor Migas Balikpapan Melejit 119 Persen, Jadi Penopang Utama Perdagangan Luar Negeri
"Kami ingin Kaltim tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil sumber daya alam. Kami ingin daerah ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan melahirkan generasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional," beber Bambang.
Ia menjelaskan, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), peningkatan investasi sektor energi, serta pengembangan infrastruktur strategis menjadi peluang besar untuk mempercepat diversifikasi ekonomi daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kaltim memang masih didominasi sektor pertambangan dan migas. Namun pemerintah daerah mulai mengarahkan pembangunan menuju hilirisasi industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi untuk menciptakan aktivitas ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.
Bambang menilai daya saing daerah di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan kemampuan mengolah sumber daya tersebut menjadi produk dan layanan bernilai ekonomi tinggi. Karena itu, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang sehat, memperkuat digitalisasi, serta mendorong kolaborasi antara dunia usaha, akademisi, dan pemerintah.
Baca Juga: Ekspor Balikpapan Meledak 48 Persen, Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama
"Transformasi industri menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Kita harus bergerak menuju industri yang lebih modern, lebih produktif, lebih ramah lingkungan, dan lebih kompetitif di tingkat global," katanya.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan pelaku industri, tetapi juga masyarakat secara luas.
"Ini penting agar Kalimantan Timur mampu mempertahankan perannya sebagai motor ekonomi nasional sekaligus menjadi pusat pertumbuhan baru di Indonesia bagian timur," tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo