KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Program pendampingan UMKM yang dijalankan mahasiswa Universitas Mulawarman penerima Beasiswa Bakti BCA mengungkap persoalan mendasar yang masih dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Samarinda. Dari hasil survei terhadap 10 UMKM, sebagian besar usaha belum memiliki pencatatan keuangan yang memadai.
Ketua Tim Pendampingan, Muhammad Fachri, menjelaskan bahwa sebelum menentukan mitra dampingan, tim terlebih dahulu melakukan pemetaan dan wawancara terhadap 10 UMKM sejak awal April lalu. Dari proses tersebut, mereka kemudian memilih usaha yang dinilai paling membutuhkan pendampingan.
“Nah, setelah itu kami filter kira-kira mana yang menurut kami perlu didampingi,” ujar Fachri.
Baca Juga: Tangis Haru Ys Pecah, PN Kutai Barat Gugurkan Status Tersangka
Hasil wawancara menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha sebenarnya memiliki keinginan untuk beralih ke sistem digital. Namun, keterbatasan pengetahuan dan minimnya pendampingan membuat proses transformasi tersebut sulit dilakukan.
“Ternyata mereka bukan tidak mau. Mereka ingin menggunakan sistem berbasis digital, tetapi kurang memahami cara menggunakannya dan aplikasi apa yang cocok untuk kebutuhan pencatatan usaha mereka,” jelas mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Unmul tersebut.
Temuan itu mengubah pandangan tim mengenai kondisi UMKM di lapangan. Menurut Fachri, banyak pelaku usaha memiliki semangat berkembang, tetapi belum mendapatkan akses pendampingan yang cukup.
Hal senada disampaikan anggota tim, Santoso Parlindungan Togatatorop. Ia menilai pencatatan keuangan menjadi salah satu aspek yang paling sering diabaikan, padahal sangat berpengaruh terhadap perkembangan usaha.
“Dari 10 UMKM yang kami survei, semuanya tidak memiliki pencatatan keuangan yang baik. Itu yang membuat usaha mereka cenderung stagnan dan sulit berkembang,” ujarnya.
Ke depan, tim berharap sistem digital yang telah dikembangkan untuk salah satu UMKM dampingan dapat diterapkan lebih luas. Setelah implementasi berjalan optimal, mereka berencana menawarkan model pendampingan serupa kepada UMKM lain yang menghadapi persoalan sejenis.
“Kami ingin mencari UMKM lain yang bisa mengadopsi sistem ini. Kemungkinan besar 10 UMKM yang sebelumnya kami survei akan kami hubungi kembali untuk pengembangan lebih lanjut,” tutup Fachri. (*)
Editor : Ery Supriyadi