KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Generasi Z mulai menjadi penggerak pertumbuhan investor pasar modal di Indonesia. Kemudahan membuka rekening efek hingga transaksi saham melalui aplikasi membuat investasi kini semakin mudah dijangkau anak muda. Namun, kemudahan itu juga diiringi tantangan berupa maraknya keputusan investasi yang hanya didasari tren atau rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO).
Deputi Kepala Wilayah Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Aldila Bandaro, mengatakan bonus demografi menjadi peluang besar untuk memperluas basis investor domestik. Dengan jumlah Gen Z yang mencapai sekitar sepertiga populasi Indonesia, kelompok usia muda dinilai memiliki waktu lebih panjang untuk membangun aset melalui investasi.
"Mulailah berinvestasi sedini mungkin. Waktu adalah keuntungan terbesar yang dimiliki anak muda karena investasi membutuhkan proses, bukan hasil instan," ujarnya saat kegiatan edukasi Sekolah Pasar Modal Level 1 di Samarinda.
Dia mengingatkan, investasi saham bukan jalan pintas untuk cepat kaya. Menurutnya, investor pemula harus memahami terlebih dahulu tujuan keuangan, profil risiko, hingga karakter instrumen investasi yang dipilih. Tanpa bekal tersebut, investor muda lebih mudah terjebak membeli saham hanya karena sedang ramai dibicarakan.
Baca Juga: Wujudkan Ketahanan Pangan, DKP3 Balikpapan Rancang Program Urban Farming Hidroponik hingga Bioflok
Hal senada disampaikan Branch Representative Phintraco Sekuritas Balikpapan, Ega Priamay Sella. Menurutnya, salah satu kesalahan paling sering dilakukan investor baru adalah mengejar saham yang sedang naik tanpa melakukan riset terlebih dahulu. Kebiasaan tersebut justru meningkatkan risiko kerugian.
"Investasi itu untuk jangka panjang, bukan berpikir enam bulan lagi langsung kaya. Jangan FOMO, jangan hanya ikut teman atau media sosial. Tetap harus punya tujuan investasi dan melakukan riset," bebernya.
Baca Juga: Bersihkan Lahan Mangrove Selama Sebulan, Gunung Elai Siapkan Destinasi Wisata Baru Ramah Lingkungan
Ega menambahkan, investasi saham kini tidak lagi identik dengan modal besar. Masyarakat sudah bisa membeli saham dengan dana relatif kecil melalui sistem pembelian per lot. Bahkan, pembukaan rekening dana nasabah (RDN) kini semakin mudah karena dapat dilakukan secara daring tanpa setoran awal di sejumlah perusahaan sekuritas.
Meski akses investasi semakin terbuka, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan agar peningkatan jumlah investor tidak hanya mengejar sisi inklusi keuangan. Kepala Divisi Pengawasan PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Kaltim-Kaltara Yulianta menegaskan literasi keuangan tetap menjadi fondasi utama agar masyarakat mampu mengambil keputusan investasi secara tepat.
"Orang sekarang semakin mudah menggunakan produk keuangan, tetapi belum tentu memahami cara kerjanya. Karena itu edukasi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terjebak investasi yang berisiko ataupun penipuan keuangan," ujarnya.
Menurutnya, investor yang baik bukan hanya berani membeli produk investasi, tetapi juga memiliki tujuan keuangan yang jelas, memahami risiko, dan konsisten menjalankan rencana investasi. "Kalau itu sudah dimiliki sejak usia muda, peluang mencapai kemandirian finansial tentu akan semakin besar," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki