KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah maupun perusahaan mulai mengubah pola permintaan kamar hotel di Balikpapan. Hotel kelas menengah kini menjadi pilihan utama penyelenggara kegiatan dibanding hotel berbintang tinggi.
Ketua PHRI Balikpapan Soegianto, mengatakan saat ini hotel bintang dua dan bintang tiga menjadi segmen yang menikmati tingkat okupansi paling tinggi. "Sekarang yang paling ramai justru hotel bintang dua dan bintang tiga. Rata-rata okupansinya bisa mencapai sekitar 70 persen," ungkapnya baru-baru ini.
Sebaliknya, hotel berbintang empat dan lima masih menghadapi tantangan cukup besar. "Kalau hotel bintang empat dan lima, bisa mencapai 50 persen saja sudah termasuk bagus untuk kondisi saat ini," ujarnya.
Baca Juga: SKK Migas Soroti Peran Strategis Media, Informasi Akurat Jadi Kunci Ketahanan Energi
Menurut Soegianto, perubahan tersebut tidak terlepas dari kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan berbagai instansi maupun perusahaan. "Salah satunya karena anggaran mereka diperkecil. Akhirnya mereka lebih memilih hotel bintang dua atau bintang tiga, tetapi kegiatan tetap bisa terlaksana," jelasnya.
Ia menilai tren tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi hotel premium yang selama ini mengandalkan penyelenggaraan rapat, seminar, maupun konferensi berskala besar. Meski demikian, seluruh segmen hotel tetap memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas korporasi selama beberapa bulan terakhir.
Menurut Soegianto, perubahan preferensi konsumen bukan berarti permintaan turun, melainkan terjadi penyesuaian terhadap kemampuan anggaran. "Market masih ada, hanya sekarang lebih selektif dalam memilih hotel yang sesuai dengan anggaran," katanya.
PHRI berharap ke depan kegiatan MICE dari pemerintah kembali meningkat sehingga distribusi tamu dapat lebih merata di seluruh klasifikasi hotel. "Kami berharap kegiatan pemerintah maupun swasta sama-sama meningkat sehingga semua segmen hotel ikut merasakan pertumbuhan," ujarnya.
Baca Juga: Lapangan Migas Tua Jadi Andalan, PHI Ungkap Tantangan Menjaga Produksi Nasional
Dia mengungkapkan, pada Juni 2026 tingkat okupansi hotel di Balikpapan menyentuh level 58 persen. Capaian ini dinilai baik di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Pelaku usaha hotel memang masih menghadapi berbagai tantangan. "Tapi Alhamdulillah saya juga cukup kaget, karena okupansi Juni bisa mencapai sekitar 58 persen. Biasanya untuk menembus 40 persen saja sulit," katanya.
Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi yang mulai kembali mendorong permintaan terhadap jasa akomodasi. Ia memperkirakan kenaikan okupansi mencapai sekitar 25 persen dibanding kondisi sebelumnya. Meningkatnya okupansi bukan berasal dari kegiatan pemerintah seperti tahun-tahun sebelumnya. Justru aktivitas korporasi menjadi motor utama.
"Ada berbagai perusahaan yang mulai mengadakan kegiatan di Balikpapan. Dari sektor perkebunan sawit maupun perusahaan lainnya cukup banyak yang menyelenggarakan meeting maupun gathering," ujarnya.
Ia mengatakan, selama ini industri hotel memang sangat bergantung terhadap penyelenggaraan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition). Ketika aktivitas pemerintahan berkurang akibat efisiensi anggaran, sektor korporasi menjadi penopang utama.
"Dulu memang banyak bergantung kepada kegiatan pemerintah. Sekarang kementerian hampir tidak ada kegiatan. Syukurnya corporate mulai bergerak sehingga membantu tingkat okupansi hotel," jelasnya. PHRI berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut hingga akhir tahun.
Menurut Soegianto, periode Juli hingga Desember biasanya menjadi momentum yang cukup baik apabila berbagai agenda bisnis dan investasi terus meningkat. "Mudah-mudahan mulai Juli sampai Desember okupansi terus naik. Itu yang menjadi harapan seluruh pelaku usaha hotel," katanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo