KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Aktivitas impor Kalimantan Timur pada Mei 2026 mengalami perlambatan di seluruh kelompok penggunaan barang. Meski demikian, bahan baku dan barang penolong masih menjadi komponen terbesar dalam struktur impor.
Dijelaskan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas'ud Rifai, dibandingkan April 2026, seluruh golongan penggunaan barang mencatat penurunan nilai impor pada Mei 2026.
"Impor barang konsumsi turun 14,58 persen, bahan baku dan barang penolong turun 63,47 persen, serta barang modal turun 46,69 persen dibandingkan bulan sebelumnya," ungkap Mas'ud.
Penurunan juga terjadi secara tahunan. Dibandingkan Mei 2025, impor barang konsumsi berkurang 19,61 persen, impor bahan baku dan barang penolong turun 23,41 persen, sedangkan impor barang modal menyusut paling dalam, yakni 54,42 persen.
Meski mengalami penurunan, struktur impor Kaltim sepanjang Januari-Mei 2026 masih didominasi kelompok bahan baku dan barang penolong dengan nilai mencapai USD2,68 miliar atau berkontribusi 96,77 persen terhadap total impor.
Sementara itu, impor barang modal tercatat USD87,38 juta dengan kontribusi 3,16 persen, sedangkan barang konsumsi hanya USD2,03 juta atau 0,07 persen.
Dari sisi pelabuhan bongkar, Pelabuhan Balikpapan masih menjadi pintu masuk utama. Pada Mei 2026, nilai impor melalui pelabuhan tersebut mencapai USD243,48 juta, disusul Pelabuhan Bonthan Bay USD21,81 juta dan Pelabuhan Kariangau USD18,20 juta.
"Total nilai impor melalui lima pelabuhan utama pada Mei 2026 turun 59,85 persen, dari USD760,03 juta pada April menjadi USD305,18 juta. Selama Januari-Mei 2026, Pelabuhan Balikpapan menyumbang 85,09 persen dari total impor, diikuti Pelabuhan Kariangau 3 persen dan Pelabuhan Sepinggan (U) 2,89 persen," tutupnya. (*)
Editor : Sukri Sikki