Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sawit Kaltim Dihadapkan Tantangan Global, GAPKI Minta Produktivitas Naik Tanpa Buka Lahan Baru

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 10 Juli 2026 | 13:28 WIB
Wakil Bendahara Umum GAPKI, Tjokro Putro Wibowo
Wakil Bendahara Umum GAPKI, Tjokro Putro Wibowo

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pelaku industri sawit di Kalimantan Timur diminta meningkatkan produktivitas tanpa bergantung pada pembukaan lahan baru. Upaya tersebut dinilai penting agar industri tetap kompetitif sekaligus mampu memenuhi tuntutan keberlanjutan di tengah dinamika global.

Dijelaskan Wakil Bendahara Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Tjokro Putro Wibowo, industri kelapa sawit masih menjadi sektor strategis nasional yang berkontribusi besar terhadap perekonomian, penyerapan tenaga kerja, hingga penyediaan bahan pangan dan energi.

Namun, tantangan yang dihadapi semakin besar, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, hingga regulasi perdagangan.

Baca Juga: Pelabuhan Kudungga Kutim Segera Dilelang, Operasional Ditargetkan Mulai Awal 2028

"Industri sawit dituntut mampu meningkatkan produktivitas tanpa selalu bergantung pada perluasan lahan. Kita harus memperbaiki tata kelola kebun dan pabrik, melakukan efisiensi biaya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memastikan praktik usaha yang semakin ramah lingkungan dan diterima pasar global," katanya.

Menurutnya, penerapan kebijakan B50 sejak 1 Juli 2026 menjadi peluang untuk meningkatkan permintaan minyak sawit dalam negeri. Namun, kebijakan tersebut juga menuntut kesiapan produksi, pasokan, tata kelola, dan keberlanjutan usaha.

Di sisi lain, GAPKI mengingatkan seluruh perusahaan untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 dengan memperkuat sistem pencegahan kebakaran lahan serta meningkatkan koordinasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat.

Baca Juga: Rakercab GAPKI Kaltim Susun Arah Industri Sawit 2026-2027

Plt Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Ahmad Muzakkir menegaskan, peningkatan produksi sawit juga penting bagi daerah karena berpengaruh terhadap besaran Dana Bagi Hasil (DBH) yang diterima pemerintah.

"Produksi Kaltim harus ditingkatkan. Perhitungan DBH didasarkan pada produksi. Kalau produksinya tidak meningkat, maka bagian yang diterima daerah juga kecil. Karena itu kolaborasi menjadi sangat penting," ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi sawit, penguatan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, hingga praktik perkebunan yang ramah lingkungan agar industri sawit mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bumi Etam. (*)

Editor : Duito Susanto
#Penyerapan tenaga kerja #Sawit Kaltim #kebijakan b50 #Gapki Kaltim #dinas perkebunan