KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Kota Balikpapan pada Juni 2026.
Meski kontribusinya berada di bawah kelompok transportasi, kenaikan harga sejumlah bahan pangan pokok menunjukkan tekanan terhadap kebutuhan rumah tangga masih cukup terasa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Balikpapan mencatat kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 2,63 persen dengan andil 0,84 persen terhadap inflasi Kota Balikpapan yang mencapai 2,80 persen secara year-on-year (y-on-y).
Baca Juga: DPRD Samarinda Usulkan Gaji Petugas Kebersihan DLH Naik Setara UMK
Komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan antara lain beras, cabai rawit, bawang merah, minyak goreng, ikan layang, tomat, serta sigaret kretek mesin.
"Peningkatan harga komoditas tersebut ikut mendorong naiknya pengeluaran rumah tangga selama Juni," kata Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.
Tidak seluruh komoditas pangan mengalami kenaikan harga. Sejumlah bahan kebutuhan sehari-hari justru mengalami penurunan sehingga membantu meredam laju inflasi.
Telur ayam ras, kangkung, bayam, sawi hijau, sawi putih, mentimun, santan jadi hingga sabun deterjen bubuk tercatat menjadi komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi.
Baca Juga: Andi Harun Dorong Penguatan STEM di Samarinda Sambut Tahun Ajaran Baru 2026/2027
Marinda mengatakan pergerakan harga pangan selalu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan inflasi karena komoditas tersebut dikonsumsi hampir seluruh lapisan masyarakat.
"Kelompok makanan, minuman dan tembakau masih memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi. Namun di dalam kelompok ini juga terdapat sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga kenaikan inflasi tidak berlangsung lebih tinggi," ujarnya.
Menurut Marinda, kondisi tersebut menunjukkan dinamika pasokan dan permintaan berbagai komoditas masih berlangsung sepanjang Juni.
Perubahan harga tidak terjadi secara seragam, melainkan dipengaruhi kondisi produksi, distribusi, hingga tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas tertentu.
BPS menilai perkembangan harga pangan perlu terus dipantau mengingat kelompok ini memiliki bobot cukup besar dalam pembentukan inflasi.
Stabilitas harga bahan pokok dinilai berpengaruh terhadap daya beli masyarakat sekaligus menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah.
"Daya beli masyarakat masih stabil, namun beberapa komoditas memang cukup naik-turun. Banyak hal yang dapat memengaruhi kenaikan harga, termasuk baik dari biaya produksi, cuaca dan lainnya. Dan lagi-lagi, kita juga masih memerlukan pasokan besar berbagai komoditas dari luar daerah," tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo