Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kaltim Punya Potensi Besar, Tapi Investor Masih Menahan Diri, Ini Penyebabnya

Ulil Mu'Awanah • Senin, 13 Juli 2026 | 19:32 WIB
POTENSIAL: Banyak investor masih melihat apakah Indonesia masih menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi.
POTENSIAL: Banyak investor masih melihat apakah Indonesia masih menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Arus investasi baru di Kaltim dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku industri karena berdampak terhadap pertumbuhan sektor usaha, penciptaan lapangan kerja, hingga pengembangan industri pendukung di daerah.

Direktur Operasional dan Marketing PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) Frans Budianto Gunawan menilai, saat ini banyak investor masih mengambil sikap menunggu atau wait and see sebelum merealisasikan investasi baru di Indonesia, termasuk di Kaltim. Ketidakpastian ekonomi global, kondisi geopolitik hingga berbagai penyesuaian kebijakan pemerintah jadi musababnya.

"Satu tantangan yang kami lihat adalah kondisi global. Banyak investor masih melihat apakah Indonesia masih menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi. Itu menjadi pertimbangan mereka sebelum mengambil keputusan," ungkapnya, Senin (13/7).

Baca Juga: Bukan Cuma Tempat Belanja, Central Park Borneo Bay City Bakal Serap Ribuan Tenaga Kerja

Ia mengatakan fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Kalimantan Timur, tetapi juga dirasakan di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan sejumlah investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang sebelumnya direncanakan masuk ke Indonesia dilaporkan batal ataupun berpindah ke negara lain.

Menurut Frans, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha karena investasi baru merupakan salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. "Banyak investasi yang akhirnya dibatalkan atau berpindah ke tempat lain. Itu yang menjadi perhatian karena investasi baru sangat dibutuhkan untuk menciptakan aktivitas ekonomi," katanya.

Di Bumi Etam, ia menilai investasi yang masih berjalan sebagian besar berasal dari sektor-sektor berbasis sumber daya alam yang memang memiliki cadangan bahan baku di wilayah tersebut. Sementara investasi manufaktur maupun industri baru yang bersifat murni ekspansi bisnis masih relatif terbatas.

Baca Juga: Meski Harga Naik hingga 20 Persen, Disdag Sebut Stok Beras Aman hingga Desember

"Kalau investasi yang datang karena sumber daya alam memang akan tetap ada. Tetapi investasi yang benar-benar dibangun karena melihat potensi pasar atau industri baru, kami belum melihat pertumbuhannya secara signifikan," ujarnya.

Frans menilai minimnya investasi baru turut berdampak terhadap dunia kerja. Padahal kualitas sumber daya manusia di Kaltim terus mengalami peningkatan, baik dari sisi kompetensi maupun keterampilan. Menurut dia, apabila peluang investasi tidak berkembang, tenaga kerja yang telah memiliki kemampuan tersebut berpotensi kembali mencari pekerjaan ke daerah lain, terutama Jawa.

"SDM kita sebenarnya semakin baik dan semakin terampil. Namun ketika investasi baru tidak banyak masuk, kesempatan kerja juga terbatas sehingga banyak tenaga kerja akhirnya harus mencari peluang di daerah lain," tutur Frans.

Meski demikian, SBMA tetap memandang kondisi tersebut sebagai tantangan yang harus dihadapi melalui langkah adaptif. Perusahaan memilih memperkuat daya saing internal sembari menunggu momentum pemulihan investasi.

Frans menjelaskan, salah satu strategi yang dijalankan perusahaan adalah meningkatkan efisiensi operasional melalui konsolidasi seluruh cabang dan unit usaha. Langkah tersebut dilakukan agar perusahaan tetap mampu menjaga profitabilitas meskipun kondisi pasar belum sepenuhnya pulih.

"Kami melakukan konsolidasi untuk menstandarkan seluruh proses bisnis, mulai dari pelaporan, pengelolaan aset, hingga standar keselamatan kerja. Dari situlah efisiensi perusahaan akan terbentuk," katanya.

Selain pembenahan internal, perusahaan juga terus mengikuti berbagai perkembangan regulasi pemerintah yang dinilai akan memengaruhi arah investasi nasional ke depan. Frans menuturkan dunia usaha harus mampu beradaptasi terhadap berbagai kebijakan baru agar tetap memiliki daya saing di tengah perubahan iklim bisnis.

Baca Juga: Dukung Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan, PLN Teken 2 Kontrak Strategis

"Kami tidak melihat setiap kebijakan pemerintah sebagai sesuatu yang negatif. Justru perusahaan harus lincah mengikuti perubahan regulasi agar bisa menemukan peluang pertumbuhan yang baru," jelasnya.

Di sisi lain, perusahaan tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang Kalimantan Timur. Keberadaan sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan berbagai kawasan industri diyakini masih menyimpan peluang besar apabila mampu didukung oleh iklim investasi yang semakin kondusif.

Frans berharap ke depan penyebaran investasi tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, tetapi juga semakin banyak mengalir ke Kalimantan sehingga mampu menciptakan pemerataan pembangunan ekonomi nasional. "Harusnya investasi bisa lebih menyebar. Itu menjadi tantangan kita bersama agar daerah-daerah yang memiliki potensi besar seperti Kalimantan mendapatkan lebih banyak investasi baru," ucapnya.

Baca Juga: BPOM Terbitkan Regulasi Baru! Influencer, ASN dan Nakes Dilarang Promosi Obat

Ia menambahkan, apabila kepercayaan investor kembali meningkat, bukan hanya perusahaan yang akan memperoleh manfaat, tetapi juga berbagai sektor pendukung seperti logistik, konstruksi, jasa, perdagangan, hingga usaha mikro dan kecil yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok industri.

"Karena itu, dunia usaha berharap stabilitas ekonomi, kepastian regulasi, serta iklim investasi yang kompetitif dapat terus dijaga sehingga Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, kembali menjadi tujuan investasi yang menarik bagi pelaku usaha domestik maupun mancanegara," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#investasi Kaltim 2026 #investasi asing Indonesia #lapangan kerja Kaltim #Ekonomi Kalimantan Timur #Investor Kaltim