KALTIMPOSYLT.ID, SAMARINDA – Sektor kehutanan menjadi tujuan utama investasi penanaman modal asing (PMA) di Kalimantan Timur pada triwulan I 2026. Nilai investasi yang masuk ke subsektor tersebut mencapai USD77,42 juta atau sekitar Rp1,27 triliun, tertinggi dibandingkan sektor usaha lainnya. Hingga Maret 2026 terdapat sekitar 20 subsektor usaha yang menerima aliran investasi asing dengan nilai USD249,12 juta atau Rp4,11 triliun.
"Realisasi PMA berdasarkan sektor usaha, subsektor kehutanan mendapatkan tambahan investasi terbesar yaitu 31,08 persen dari keseluruhan realisasi PMA," jelas Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltim Fahmi Prima Laksana.
Baca Juga: Ini Jawaban Dinas Perikanan Paser Terkait Kuota Solar Subsidi yang Dikeluhkan Nelayan
Posisi berikutnya ditempati industri kertas dan percetakan dengan investasi USD31,92 juta atau sekitar Rp526,74 miliar yang menyumbang 12,81 persen dari total PMA. Selanjutnya subsektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan mencatat investasi USD30,76 juta atau sekitar Rp507,59 miliar atau berkontribusi 12,35 persen.
Selain tiga sektor tersebut, investasi asing juga mengalir ke subsektor pertambangan senilai USD40,83 juta, industri makanan USD17,64 juta, perdagangan dan reparasi USD14,77 juta, industri mineral nonlogam USD13,58 juta, serta industri kayu USD9,55 juta.
Baca Juga: DPRD Balikpapan Minta PAD Dimaksimalkan, Dana Transfer Pusat Diproyeksi Turun pada 2027
Dilihat dari jumlah proyek, subsektor perdagangan dan reparasi menjadi yang paling aktif dengan 279 proyek. Disusul sektor pertambangan sebanyak 140 proyek, jasa lainnya 118 proyek, transportasi, pergudangan, dan komunikasi 97 proyek, serta tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan 90 proyek.
Fahmi menambahkan, meski nilai investasi terbesar berasal dari kehutanan, penyerapan tenaga kerja paling banyak justru terjadi di subsektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan.
"Subsektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan menyerap tenaga kerja Indonesia paling banyak yaitu 1.333 orang. Sektor lain yang juga menyerap tenaga kerja Indonesia adalah subsektor industri kertas dan percetakan 895 orang, sedangkan subsektor kehutanan menyerap 303 orang," tutupnya. (*)
Editor : Sukri Sikki