KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Bagi sebagian orang, sampah kerap kali dianggap kotor, bau bahkan menjijikan. Namun, di TPST 3R GMJB, sampah kini bernilai ekonomis dan menjadi sumber penghasilan yang dapat menghidupi keluarga mereka yang bekerja di area TPST tersebut.
Bermula dari banyaknya tumpukan sampah di pinggir jalan dan pemukiman, muncullah gagasan untuk membentuk program Gerakan Muara Jawa Bersih (GMJB). GMJB tersebut bertujuan mengelola sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang berfokus pada pengelolaan sampah terpadu (Reduce, Reuse, Recycle atau TPST 3R).
TPST 3R GMJB ini terletak di Jalan Mutiara, Kecamatan Muara Jawa, Kutai Kartanegara. GMJB ingin membuat kawasan Muara Jawa menjadi bersih lantaran dulu banyak sekali sampah berserakan di pinggir jalan dan pemukiman, bahkan akses menuju tempat pembuangan sampah sulit di lewati lantaran banyaknya sampah yang tertumpuk di kawasan tersebut.
Baca Juga: Daftar 26 Skuad Timnas Indonesia ASEAN Championship 2026 dan 24 Pemain yang Dicoret John Herdman
Di tahun 2019, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), melalui program CSR hadir membantu GMJB memperbaiki akses jalan menuju TPST dengan melakukan semenisasi. Setelah lingkungan sekitar dan jalan tidak lagi ada sampah dan bersih, ternyata dari sampah ini memiliki potensi untuk dikembangkan dan dipilah antara sampah organik dan anorganik.
Dari sampah yang telah dipilah inilah, sampah yang tadinya tidak berharga kini jadi bernilai ekonomis dan dapat menjadi sumber pendapatan bagi warga. Misalnya dari sampah anorganik, sampah plastik dapat di olah menjadi paving block, papan daur ulang, bahan bakar alternatif (Petrasol), dan lain-lain yang kemudian dapat dijual.
Untuk sampah organik, pada 2023 melalui Program Biokosmo (Biokonversi Sampah Organik), PHSS bersama dengan GMJB mulai membentuk kelompok dan mempersiapkan infrastruktur serta fasilitas Budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF).
Melalui biokenversi maggot ini, dapat menghasilkan beragam produk yang bernilai bagi sektor perikanan, peternakan dan hortikultura. Dari sampah sisa makanan, sayur dan buah yang telah dipilah kemudian dikelola untuk makanan maggot.
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini 25 Juli 2026 Anjlok, Lakuemas Turun Rp39.000 dan Raja Emas Melemah
Kemudian dari maggot yang sudah tumbuh besar tersebut dapat digunakan sebagai pakan ternak berprotein tinggi bagi hewan seperti ayam, bebek, dan ikan. Lalu dari sisa sampah organik yang diurai oleh ulat maggot dapat menjadi Pupuk Kasgot yakni pupuk organik untuk kesuburan tanaman dan POC Maggot (pupuk cair maggot).
Beragam produk seperti pupuk, dried maggot, pelet ikan dan ayam, organi fertilizer dan liquid-bio fertilizer kini telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Kaltim. Selain mengurangi volume sampah, adanya program ini ternyata juga menciptakan lapangan kerja dan mengurangi jumlah pengangguran di masyarakat.
Terdapat sekitar 50 orang yang bekerja dan menggantungkan mata pencaharian mereka di TPST 3R GMJB ini. GMJB juga terus mengajak, mengimbau dan mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah. Dengan dukungan PHSS, pemerintah, dan perusahaan lainnya, GMJB diharapkan dapat lebih berkembang dengan beragam inovasi lainnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo