Banyak Rumah dan Ruko di Kaltim Dijual, Ekonom Sebut Daya Beli Melemah

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:06 WIB
BUTUH DANA SEGAR: Pemilik rumah dan ruko di Kaltim semakin banyak yang menawarkan asetnya ke pasar.
BUTUH DANA SEGAR: Pemilik rumah dan ruko di Kaltim semakin banyak yang menawarkan asetnya ke pasar.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Perlambatan kinerja mulai terasa di sektor properti. Saat penjualan rumah secara nasional anjlok 25,67 persen pada triwulan I 2026, pemilik rumah dan ruko di Kaltim semakin banyak yang menawarkan asetnya ke pasar.

Ekonom Universitas Mulawarman (Unmul) Purwadi menilai kondisi tersebut dipicu melemahnya daya beli masyarakat, sehingga transaksi properti ikut tersendat. 

Purwadi mengatakan, perlambatan ekonomi membuat masyarakat mengalihkan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pokok dibanding membeli aset seperti rumah maupun ruko.

Baca Juga: Dukungan Orang Tua Jadi Fondasi Gazebo Balikpapan Mencetak Atlet Berprestasi

“Daya beli sedang menurun. Properti yang banyak dijual juga tidak laku-laku karena masyarakat tidak punya uang. Mereka lebih memilih menyimpan uang untuk kebutuhan prioritas,” ujarnya kepada Kaltim Post, Jumat (25/7). 

Menurut Purwadi, dalam kondisi seperti sekarang, pasar properti cenderung hanya bergerak di kalangan investor yang memiliki likuiditas besar. Mereka justru menunggu harga properti turun sebelum melakukan pembelian.

“Yang membeli sekarang hanya kelompok yang memang memiliki dana lebih. Mereka menunggu harga properti jatuh karena banyak pemilik yang butuh uang,” katanya.

Baca Juga: Tatap Musim Baru, Persiba Balikpapan Resmi Rekrut Sudirman Sebagai Pelatih Kepala

Ia menjelaskan, secara teori melemahnya permintaan akan mendorong harga properti ikut terkoreksi. Namun di sisi lain, tingginya suku bunga kredit membuat masyarakat tetap sulit membeli rumah, termasuk aset yang dijual melalui lelang perbankan.

“Bagaimana orang bisa membayar cicilan yang lebih mahal kalau penghasilannya tidak cukup? Akibatnya banyak properti akhirnya tidak terserap pasar,” jelasnya.

Purwadi menilai tekanan terhadap sektor properti di Kaltim juga dipengaruhi kondisi daerah. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pertambangan, menurutnya, turut menggerus permintaan terhadap rumah sewa, rumah kontrakan, hingga ruko.

“Kalau di Kaltim, PHK sektor tambang pasti berdampak besar terhadap properti. Kos-kosan banyak kosong, rumah yang disewa perusahaan kosong, ruko yang digunakan kantor perusahaan juga mulai kosong,” ungkapnya.

Ketika pendapatan dari penyewaan berhenti, pemilik properti akhirnya memilih menjual aset sebagai langkah terakhir untuk memperoleh dana segar. Namun, upaya tersebut tidak mudah karena pembeli juga terbatas.

“Pemilik properti butuh uang, tetapi pasar tidak mendukung karena masyarakat juga sedang kesulitan secara ekonomi,” tambahnya.

Purwadi menyebut tekanan ekonomi nasional turut merembet hingga ke daerah. Menurutnya, perlambatan ekonomi, penurunan aktivitas usaha, hingga melemahnya belanja pemerintah ikut memengaruhi kondisi ekonomi di Kaltim

Baca Juga: Edukasi Investasi Emas Sejak Dini, Pegadaian Hadirkan Bazar Finansial di Balikpapan

“Kalau ekonomi nasional tidak sehat, daerah juga akan ikut terdampak. Kondisi makro akan berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat di daerah,” katanya.

Di sisi lain, sektor properti juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya pembangunan. Harga material bangunan yang meningkat membuat pengembang kesulitan menentukan harga jual yang sesuai dengan kemampuan masyarakat.

Belum lagi, lanjut Purwadi, sebagian pengembang masih bergantung pada pembiayaan perbankan. Ketika penjualan melambat, risiko kredit bermasalah ikut meningkat.

“Kalau pengembang bergantung pada kredit bank lalu penjualannya macet, tentu risikonya besar. Dampaknya tidak hanya ke pengembang, tetapi juga ke pekerja konstruksi, toko bangunan, hingga rantai usaha lainnya,” ujarnya.

Baca Juga: BRI Resmikan Branch Office Samarinda Pelita, Perkuat Layanan dan Dukung Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Timur

Selain faktor pembiayaan, ia juga menyoroti proses perizinan pembangunan yang dinilai masih panjang, termasuk penyediaan infrastruktur dasar seperti jaringan air bersih yang kerap belum tersedia saat kawasan perumahan mulai dipasarkan.

Purwadi memprediksi prospek sektor properti dalam waktu dekat masih akan menghadapi tantangan. Bahkan, menurutnya, masyarakat berpenghasilan menengah kini semakin sulit membeli rumah, termasuk rumah subsidi.

“Jangankan rumah komersial, rumah subsidi saja banyak pekerja yang belum mampu membeli. Selama daya beli belum pulih dan suku bunga masih tinggi, sektor properti akan tetap berat,” pungkasnya. (*) 

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
rumah dan ruko dijual properti kaltim penjualan rumah di Kaltim daya beli masyarakat