KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Timur pada Juni 2026 tercatat 143,88. Meski masih menunjukkan daya beli petani relatif lebih baik dibandingkan tahun dasar 2018, angkanya mengalami penurunan 4,51 persen dibandingkan Mei 2026.
Dijelaskan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai, NTP merupakan salah satu indikator untuk mengukur kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Indikator tersebut dihitung dari perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).
"NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani," ujarnya.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Anak Samarinda Turun, DPRD Khawatir Korban Takut Melapor
Mas’ud menjelaskan, penghitungan NTP diperoleh dari hasil survei pemantauan harga di enam kabupaten, yakni Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Penajam Paser Utara.
Berdasarkan hasil survei tersebut, NTP Juni 2026 yaitu 143,88 yang menunjukkan daya beli petani masih relatif lebih baik dibandingkan tahun dasar. Kondisi itu terjadi karena harga yang diterima petani masih lebih tinggi dibandingkan harga yang mereka bayarkan terhadap tahun dasar (2018=100).
Namun, secara bulanan NTP mengalami penurunan 4,51 persen. Mas’ud mengatakan, penurunan tersebut dipicu turunnya indeks harga hasil produksi pertanian 3,88 persen. Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani justru meningkat 0,66 persen, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal.
"Jika dibandingkan dengan NTP pada bulan yang sama tahun lalu, NTP Juni 2026 secara umum mengalami kenaikan 0,14 persen," katanya.
Baca Juga: Berharap AC Tak Rusak kepada Mas Bahlil Ganteng
BPS juga mencatat seluruh subsektor pertanian mengalami penurunan NTP pada Juni 2026. Penurunan terdalam terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat 6,46 persen, disusul subsektor peternakan 6,28 persen.
Sementara itu, subsektor hortikultura turun 1,77 persen, subsektor tanaman pangan turun 0,28 persen, dan subsektor perikanan turun 0,15 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terjadi hampir di seluruh subsektor pertanian di Kaltim selama Juni 2026. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo