KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan pada Mei 2026 menunjukkan perlambatan.
Meski jumlah penumpang domestik yang berangkat masih mencatat kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, secara keseluruhan lalu lintas penumpang udara mengalami kontraksi, baik dibandingkan April 2026 maupun periode yang sama tahun lalu.
Adapun sepanjang Mei 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat total penumpang angkutan udara domestik mencapai 297.235 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 131.356 penumpang yang berangkat dan 165.879 penumpang yang datang.
Dibandingkan April 2026, jumlah penumpang yang berangkat memang tumbuh 5,95 persen. Namun, peningkatan tersebut belum mampu mengimbangi penurunan tajam pada arus kedatangan yang merosot 19,99 persen secara bulanan. Akibatnya, total mobilitas penumpang domestik masih turun 10,28 persen dibandingkan April 2026.
Baca Juga: Laba SBMA Melonjak 10,63 Persen, Produksi Gas Industri Tembus 11,1 Juta Meter Kubik
"Jika dibandingkan Mei 2025, penurunannya bahkan lebih dalam. Total penumpang domestik menyusut 16,28 persen secara tahunan. Penumpang yang berangkat turun 15,91 persen, sementara penumpang yang datang berkurang 16,58 persen," ucap Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.
Dinamika tersebut kata Marinda menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat masih berfluktuasi mengikuti kebutuhan perjalanan dan kondisi aktivitas ekonomi.
"Pada Mei 2026, jumlah penumpang angkutan udara domestik yang berangkat mengalami kenaikan dibandingkan April 2026. Namun apabila dibandingkan dengan Mei tahun sebelumnya, baik penumpang yang berangkat maupun yang datang masih mengalami penurunan," tambahnya.
Baca Juga: Bank Indonesia Jakarta Buka Lowongan Magang Batch 2 Tahun 2026 untuk Mahasiswa S1
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan sektor transportasi udara belum berlangsung merata. Kenaikan jumlah keberangkatan secara bulanan mengindikasikan masih adanya aktivitas perjalanan masyarakat, baik untuk kepentingan bisnis, pemerintahan maupun pribadi.
Namun, penurunan jumlah penumpang yang datang menunjukkan arus masuk ke Balikpapan belum kembali sekuat tahun sebelumnya. Sebagai kota jasa sekaligus gerbang utama Kalimantan Timur, pergerakan penumpang udara memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas ekonomi daerah.
"Penurunan jumlah penumpang biasanya berdampak terhadap tingkat hunian hotel, konsumsi restoran, transportasi darat, pusat perbelanjaan hingga sektor usaha mikro yang bergantung pada kedatangan wisatawan maupun pelaku bisnis," sebutnya.
Selain pasar domestik, pergerakan penumpang internasional juga menunjukkan pola yang beragam. Pada Mei 2026, jumlah penumpang luar negeri yang berangkat tercatat sebanyak 8.569 orang. Angka tersebut melonjak 79,12 persen dibandingkan April 2026 yang hanya mencapai 4.784 orang.
Kendati demikian, dibandingkan Mei 2025, jumlahnya masih turun 11,24 persen. Sementara itu, penumpang internasional yang datang hanya mencapai 3.992 orang. Jumlah tersebut turun 24,79 persen dibandingkan April 2026 yang mencapai 5.308 orang.
Meski demikian, secara tahunan masih tumbuh 9,91 persen dibandingkan Mei 2025 sebanyak 3.632 orang. "Secara keseluruhan, total penumpang internasional pada Mei 2026 mencapai 12.561 orang atau naik 24,46 persen dibandingkan April 2026, tetapi turun 5,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," timpalnya.
Baca Juga: Pos Indonesia Buka 15 Posisi Magang Nasional 2026 untuk Berbagai Jurusan
Marinda menjelaskan, perbedaan arah pergerakan antara pasar domestik dan internasional merupakan hal yang lazim terjadi karena dipengaruhi karakteristik permintaan yang berbeda.
"Perkembangan jumlah penumpang pada masing-masing jenis angkutan dipengaruhi pola perjalanan masyarakat yang berubah setiap periode, sehingga terdapat perbedaan antara pertumbuhan bulanan dan tahunan," katanya.
Balikpapan selama ini menjadi pintu gerbang utama menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), kawasan industri, serta berbagai daerah di Kalimantan Timur. Karena itu, perkembangan jumlah penumpang udara sering menjadi salah satu indikator awal untuk membaca denyut aktivitas ekonomi regional.
"Secara ekonomi, aktivitas perjalanan menuju dan dari Balikpapan belum sepenuhnya pulih ke level tahun sebelumnya," tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo