KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Menuju industri yang lebih berkelanjutan dan mempertegas langkah transformasi bisnisnya, PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) mulai merealisasikan proyek diversifikasi usaha berbasis ekonomi sirkular.
Tahap implementasi tersebut ditandai dengan tibanya mesin paving yang akan menjadi fasilitas utama dalam pembangunan pabrik paving milik Perseroan, sebuah proyek yang dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping produksi menjadi produk bernilai ekonomi.
Kedatangan mesin paving kata Rini Dwiyanti, selaku Presiden Direktur PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk, bukan sekadar penambahan aset produksi, melainkan menjadi simbol dimulainya fase baru pengembangan bisnis SBMA.
Baca Juga: KUR Kaltim Tembus Rp2,13 Triliun, Hampir 27 Ribu Pelaku Usaha Dapat Suntikan Modal
"Strategi diversifikasi yang selama ini disusun tidak berhenti pada tataran perencanaan, tetapi telah memasuki tahap eksekusi melalui investasi nyata yang diharapkan mampu memperkuat fundamental usaha sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru di masa depan," ungkapnya.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari persetujuan para pemegang saham atas penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang telah disahkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Persetujuan tersebut menjadi landasan hukum bagi Perseroan untuk mengembangkan lini usaha baru yang selaras dengan strategi pertumbuhan jangka panjang berbasis keberlanjutan.
"Proyek pembangunan pabrik paving menjadi salah satu implementasi konkret konsep circular economy yang diusung SBMA," tegasnya.
Baca Juga: Kredit Bermasalah di Kaltim Masih Aman, NPL Mahulu Cuma 0,05 Persen
Dalam proses produksinya, Perseroan akan memanfaatkan residu karbit (carbide residue), yaitu hasil samping dari produksi gas asetilena, sebagai salah satu bahan baku pembuatan paving.
Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi limbah industri sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya yang selama ini dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan.
Penerapan ekonomi sirkular semakin menjadi perhatian berbagai sektor industri karena dinilai mampu menjawab tantangan keberlanjutan melalui optimalisasi penggunaan material dan pengurangan limbah.
"Melalui proyek tersebut, SBMA berupaya menghadirkan model bisnis yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui pemanfaatan kembali material hasil produksi," tuturnya.
Editor : Nugroho Pandu Cahyo