Daya Beli Masyarakat Kaltim Mulai Melemah, Perlambatan Tambang Picu Efek Berantai ke Dunia Usaha

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 20:03 WIB
SEPI: Kondisi perdagangan di salah satu pasar di Balikpapan tampak lesu, banyak masyarakat memilih menahan dan mengurangi belanja konsumtif karena ekonomi menurun. AINUR/KP
SEPI: Kondisi perdagangan di salah satu pasar di Balikpapan tampak lesu, banyak masyarakat memilih menahan dan mengurangi belanja konsumtif karena ekonomi menurun. AINUR/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Perlambatan yang terjadi di sektor pertambangan, khususnya batu bara mulai memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor usaha lainnya. Sebab selama ini bisnis emas hitam telah menjadi penopang utama perekonomian daerah.

Wakil Ketua Umum V Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim, M Reza Fadhillah, menjelaskan kondisi perlambatan ekonomi saat ini sangat dirasakan oleh para pelaku usaha. Menurutnya, sektor pertambangan yang selama ini menjadi penyumbang terbesar pendapatan daerah mengalami penurunan aktivitas, sementara di sisi lain belanja pemerintah juga melambat.

"Di saat yang bersamaan, belanja pemerintah juga mengalami perlambatan, sehingga kedua faktor tersebut saling berkaitan dan memperkuat dampak perlambatan ekonomi," kata Reza, Rabu (5/8).

Baca Juga: BNNP Kaltim Bongkar Peredaran Sabu di Muara Badak, Sita 45,85 Gram

Ia menjelaskan, ketika aktivitas pertambangan menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan tambang, tetapi juga menyebar ke seluruh rantai usaha yang bergantung pada sektor tersebut. Berbagai perusahaan subkontraktor, penyedia alat, jasa transportasi, hingga penyedia konsumsi dan katering turut mengalami penurunan aktivitas.

"Akibatnya, perputaran ekonomi menjadi jauh lebih lambat," jelasnya. Menurut Reza, kondisi serupa sebenarnya pernah terjadi pada tahun 2017. Saat itu sektor pertambangan juga mengalami perlambatan. Namun, dampaknya tidak sebesar sekarang karena masih ditopang oleh aktivitas perdagangan masyarakat yang relatif stabil serta belanja pemerintah yang tetap berjalan.

"Kedua faktor itulah yang mampu menjaga roda perekonomian agar tidak mengalami tekanan yang lebih dalam," katanya. Berbeda dengan kondisi saat ini, perlambatan ekonomi terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian global.

Baca Juga: Residivis Narkoba Ditangkap Lagi, Sabu Disembunyikan di Dekat Kaki saat Digerebek Polisi

Meski dampak langsung dari kondisi internasional dinilai tidak terlalu besar terhadap Benua Etam, situasi tersebut tetap memengaruhi psikologis masyarakat dalam melakukan konsumsi. Reza menilai masyarakat saat ini sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk berbelanja, namun memilih bersikap lebih hati-hati dengan menahan pengeluaran.

"Mereka memilih menahan daya beli karena masih menunggu adanya kepastian terhadap kondisi ekonomi. Sikap kehati-hatian inilah yang kemudian turut memperlambat perputaran ekonomi di berbagai sektor usaha," tegasnya.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, jumlah pekerja di sektor pertambangan berkurang sekitar 40 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya. Salah satunya dikarenakan adanya penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di sektor pertambangan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
daya beli masyarakat Kaltim Tambang Batu Bara Kaltim perlambatan ekonomi Kaltim Ekonomi Kalimantan Timur Apindo Kaltim