KALTIMPOST.ID-Arus impor melalui pelabuhan di Balikpapan melonjak tajam pada Juni 2026. Nilainya mencapai USD 1,18 miliar, meningkat 323,17 persen dibandingkan Mei yang tercatat USD 278,65 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama mengatakan, lonjakan tersebut menjadi salah satu pergerakan impor tertinggi sepanjang Januari 2024 hingga Juni 2026.
Tidak hanya secara bulanan, impor juga meningkat 271,88 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar USD 317,08 juta.
“Lonjakan tersebut menjadi salah satu pergerakan impor paling tinggi sepanjang periode Januari 2024 hingga Juni 2026. Tidak hanya meningkat secara bulanan, nilai impor juga tumbuh sangat tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ungkap Marinda.
Baca Juga: Gratispol Perguruan Tinggi Masih Hadapi Sejumlah Kendala, DPRD Kaltim Minta Koordinasi Diperkuat
Peningkatan terutama ditopang kelompok migas. Nilai impor migas pada Juni mencapai USD 1,12 miliar, sedangkan nonmigas hanya USD 56,38 juta.
Impor migas meningkat 367,05 persen dibandingkan Mei yang sebesar USD 240,39 juta. Secara tahunan, kenaikannya mencapai 380,69 persen dibandingkan Juni 2025 sebesar USD 233,57 juta.
Minyak mentah menjadi komponen dengan lonjakan terbesar. Nilai impornya mencapai USD 985,71 juta, meroket 1.167,03 persen dibandingkan Mei yang hanya USD 77,80 juta.
Sementara itu, impor hasil minyak mencapai USD 91,99 juta atau meningkat 28,87 persen secara bulanan. Impor gas tercatat USD 45,07 juta, naik 35,42 persen.
Berbeda dengan migas, kinerja nonmigas secara tahunan mengalami penurunan. Nilainya sebesar USD 56,38 juta, turun 32,48 persen dibandingkan Juni 2025 yang mencapai USD 83,50 juta.
Namun secara bulanan, impor nonmigas masih meningkat 47,39 persen dibandingkan Mei yang sebesar USD 38,25 juta.
Baca Juga: Pengamat Unmul Nilai Seragam Gratis Relevan tapi Harus Prioritaskan Murid yang Membutuhkan
Struktur tersebut memperlihatkan kuatnya dominasi migas dalam arus barang dari luar negeri. Dari total impor USD 1,18 miliar pada Juni, sekitar 95 persen berasal dari kelompok migas.
“Struktur impor Juni menunjukkan bahwa kenaikan total impor lebih banyak berasal dari sektor migas. Sementara itu, kelompok nonmigas relatif lebih kecil dan secara tahunan mengalami penurunan,” kata Marinda.
Lonjakan impor turut memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan Balikpapan. Sebab, nilai impor pada Juni jauh melampaui ekspor yang tercatat USD 668,07 juta.
Selisih tersebut membuat Balikpapan kembali membukukan defisit perdagangan sebesar USD 511,08 juta pada Juni 2026.
Tingginya kebutuhan impor migas, terutama minyak mentah, menjadi faktor utama yang membuat nilai barang masuk melampaui ekspor pada periode tersebut.
Editor : Romdani.