KALTIMPOST.ID - Harga emas dunia berpeluang kembali mencetak rekor baru hingga akhir 2026. Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, memproyeksikan harga emas berpotensi naik ke kisaran US$5.000-US$6.000 per ons troi apabila mampu menembus level US$4.900.
Prospek tersebut didukung oleh ekspektasi suku bunga Amerika Serikat (AS) yang lebih longgar, pelemahan ekonomi AS, pembelian emas oleh bank sentral, serta risiko geopolitik yang masih berlangsung.
Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (14/8/2026), harga emas dunia berada di level US$4.341,58 per ons troi. Harga tersebut menguat 6,92% dalam sebulan terakhir, meski secara harian terkoreksi tipis 0,18%.
Baca Juga: Rupiah Perkasa! Ditutup Menguat ke Rp17.827 per Dolar AS hari ini (14/8), Asia Ikut Menguat
Harga Emas Masih Berpeluang Menguat
Wahyu menilai pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih berada dalam fase konsolidasi, tetapi memiliki kecenderungan menguat. Setelah sempat turun hingga US$3.943 per ons troi, harga emas mulai menunjukkan pembalikan arah yang lebih kuat.
Penguatan tersebut ditopang oleh pembelian emas yang terus dilakukan bank-bank sentral global dan kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil. Selain itu, arah harga emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed serta pergerakan dolar AS.
Melansir keterangan Wahyu Laksono, pelemahan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi salah satu faktor penting yang mendukung harga emas. Kondisi tersebut terjadi setelah inflasi konsumen AS melandai ke level 3,4% dan data tenaga kerja menunjukkan pelemahan.
AS bahkan tercatat kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli. Kondisi ekonomi tersebut turut memberikan tekanan terhadap dolar AS sehingga membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor.
Di sisi lain, dinamika di Selat Hormuz dan memburuknya sejumlah indikator ekonomi AS juga menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga emas masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi.
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Belum Dibahas DPR, Puan: Masih Tunggu Masukan Masyarakat
Emas Diproyeksikan Tembus US$6.000
Secara teknikal, harga emas diperkirakan bergerak dalam kisaran US$4.000-US$4.600 per ons troi sebelum melanjutkan tren kenaikan. Level US$4.600 menjadi batas kenaikan terdekat yang perlu ditembus.
Sementara itu, level US$4.900 per ons troi menjadi batas penting berikutnya. Jika harga emas mampu melewati level tersebut, peluang untuk mencetak rekor tertinggi baru semakin terbuka.
Wahyu memperkirakan harga emas selanjutnya dapat menguji kisaran US$5.000 hingga US$6.000 per ons troi pada akhir tahun.
"Alokasi emas yang ideal berada di kisaran 5% hingga 15% dari total portofolio sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap risiko sistemik dan penurunan nilai mata uang, bukan untuk spekulasi jangka pendek," ujar Wahyu Laksono, dilansir dari Kontan, Jumat (14/8/2026).
Untuk menghadapi kondisi pasar yang masih bergejolak, Wahyu menyarankan strategi pembelian emas secara bertahap. Salah satunya melalui metode Dollar-Cost Averaging (DCA) atau membeli ketika harga mengalami pelemahan dan mendekati batas bawah pergerakan harga.
Strategi tersebut dinilai dapat membantu investor mengatur porsi emas dalam portofolio tanpa terlalu bergantung pada pergerakan harga dalam jangka pendek.***
Editor : Dwi Puspitarini