KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tidak ingin terpaku dengan sektor perdagangan dan jasa, pengembangan ekonomi kreatif mulai mendapat perhatian serius sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Balikpapan. Kota ini dinilai memiliki peluang besar membangun ekosistem kreatif yang mencakup musik, sinema, penulisan, hingga kegiatan berbasis komunitas.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, posisi Balikpapan sebagai pusat konektivitas Kalimantan memberikan modal penting untuk mengembangkan aktivitas ekonomi kreatif. Menurutnya, Balikpapan tidak hanya memiliki akses transportasi laut melalui pelabuhan, tetapi juga konektivitas udara yang menjangkau berbagai kota di Kalimantan.
Kondisi tersebut membuat mobilitas orang menuju Balikpapan relatif tinggi dan dapat dimanfaatkan untuk mendatangkan pasar bagi industri kreatif lokal. “Balikpapan kan Kalimantan hub-nya ada di Balikpapan. Dari sisi keterhubungan, pelabuhan punya peran yang penting. Kedua dari sisi transportasi udara, hampir semua kota di Kalimantan terjangkau dengan direct flight dari Balikpapan,” kata Robi, Minggu (23/8).
Baca Juga: Dampak El Nino, 1.260 Hektare Lahan di Kaltim Hangus Terbakar Selama Agustus 2026
Keunggulan konektivitas tersebut, lanjut dia, seharusnya tidak berhenti pada fungsi Balikpapan sebagai kota transit. Arus orang yang masuk ke Balikpapan perlu diarahkan menjadi aktivitas ekonomi yang lebih panjang, termasuk melalui kegiatan kreatif. “Orang bisa meeting di Balikpapan, bisa melakukan berbagai kegiatan. Kemudian potensi ekonomi kreatifnya juga sangat besar,” ujarnya.
Robi melihat subsektor ekonomi kreatif Balikpapan masih memiliki ruang pengembangan yang luas. Salah satunya adalah industri kreatif yang berkaitan dengan produksi film dan konten audiovisual. Selain itu, bidang penulisan dan musik juga dinilai mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari identitas ekonomi kreatif kota.
“Balikpapan potensial sekali menjadi pusat hidup kreatif. Baik itu untuk sinema, menulis, maupun musik. Potensi-potensi ini yang perlu kita dorong,” tuturnya. Menurut Robi, pengembangan ekonomi kreatif tidak bisa hanya mengandalkan keberadaan pelaku usaha. Diperlukan ruang yang memungkinkan komunitas dan pelaku kreatif bertemu dengan masyarakat sekaligus pasar.
Karena itu, keberadaan ruang publik menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut. Ruang publik dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan musik, pameran karya, bazar produk kreatif, festival, hingga berbagai kegiatan komunitas.
Baca Juga: 3.000 Guru di Kukar Berpeluang Jadi PNS, Disdikbud Masih Tunggu Aturan dari Pusat
Pemkot Balikpapan sendiri mendorong aktivitas masyarakat melalui kegiatan car free day (CFD), termasuk di kawasan Taman Tiga Generasi. Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai ruang olahraga, tetapi juga dapat menjadi tempat bertemunya komunitas dan pelaku ekonomi kreatif dengan masyarakat.
Dari sisi ekonomi, kegiatan semacam itu menciptakan peluang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan jasanya secara langsung. Ketika jumlah pengunjung meningkat, kebutuhan terhadap makanan, minuman, merchandise, jasa kreatif, hiburan, hingga produk lokal juga berpotensi ikut tumbuh.
Robi menilai pola tersebut dapat dikembangkan menjadi agenda rutin yang mampu menciptakan ekosistem ekonomi kreatif lebih kuat. Salah satu bukti bahwa event mampu menarik massa dari luar daerah terlihat dari penyelenggaraan Festival Nontunai Nusantara Running (FentuRun) 2026. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 3.000 peserta.
“FentuRun 2026 kemarin lebih dari 3.000 peserta. Sekitar 1.000 dari Balikpapan dan sisanya dari luar daerah. Ini menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat sangat besar,” kata Robi.
Masuknya peserta dari luar daerah memberikan peluang ekonomi yang lebih luas. Pengunjung yang datang tidak hanya beraktivitas di lokasi acara, tetapi juga membutuhkan transportasi, tempat menginap, makanan, minuman, serta berbagai kebutuhan lainnya.
Bagi ekonomi kreatif, event dengan skala besar juga menjadi ruang promosi yang strategis. Pelaku lokal dapat memperkenalkan produk kepada masyarakat dari berbagai daerah tanpa harus membangun pasar secara terpisah. Konsep tersebut kemudian dapat diperluas melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan kreatif secara berkelanjutan.
Semakin banyak event yang memiliki daya tarik, semakin besar pula peluang Balikpapan membangun reputasi sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di Kalimantan. "Momentum tersebut perlu dimanfaatkan dengan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, sektor swasta dan lembaga terkait," ucapnya.
Baca Juga: Lahan Gambut di Seputar Tol Samarinda-Balikpapan Terbakar Sabtu Malam
Dengan demikian, ekonomi kreatif tidak sekadar menjadi sektor pelengkap dalam aktivitas ekonomi kota. Sektor ini dapat menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan karya menjadi aktivitas ekonomi.
Robi menyebut Balikpapan memiliki modal berupa konektivitas dan pasar. Tantangannya adalah bagaimana modal tersebut diubah menjadi ekosistem kreatif yang hidup dan berkelanjutan. “Potensinya besar. Yang perlu kita dorong adalah bagaimana potensi ekonomi kreatif itu bisa berkembang dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi Balikpapan,” pungkas Robi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo