KALTIMPOST.ID-Car free day (CFD) dinilai memiliki potensi lebih besar dari sekadar ruang olahraga dan rekreasi masyarakat.
Asal konsisten dan terintegrasi, CFD bisa berkembang menjadi salah satu ruang publik yang mendorong pergerakan ekonomi lokal, memperluas pasar usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), sekaligus membuka ruang lebih besar bagi pelaku ekonomi kreatif dan perempuan untuk mengembangkan usaha.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan Noval Asfihan menuturkan, keramaian yang tercipta di ruang publik seperti CFD merupakan potensi ekonomi yang perlu dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, masyarakat yang datang untuk berolahraga dan berkegiatan di akhir pekan secara otomatis menciptakan pasar yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha lokal.
Baca Juga: Koalisi Reset Kehutanan Tolak Revisi UU Kehutanan, Desak Perombakan Total Tata Kelola Hutan
“CFD jangan hanya dilihat sebagai kegiatan olahraga masyarakat. Di dalamnya ada potensi ekonomi yang cukup besar. Ketika masyarakat berkumpul dalam jumlah banyak, pasti ada kebutuhan yang muncul, dan kebutuhan itu bisa menjadi peluang bagi UMKM maupun pelaku ekonomi kreatif,” kata Noval.
Menurutnya, keberadaan ruang publik yang mempertemukan masyarakat dengan pelaku usaha bisa menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
UMKM tidak harus selalu bergantung pada pusat perbelanjaan atau lokasi komersial dengan biaya sewa tinggi untuk mendapatkan konsumen.
CFD justru bisa menjadi etalase terbuka bagi produk lokal. Pelaku usaha dapat memperkenalkan makanan dan minuman, produk fashion, kerajinan, aksesori, produk rumah tangga, hingga berbagai karya kreatif lainnya secara langsung kepada masyarakat.
Noval mengatakan, konsep tersebut perlu dibangun dengan perencanaan yang matang agar CFD tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya pedagang.
Pemerintah bersama organisasi dunia usaha dan komunitas dapat menyusun mekanisme kurasi, zonasi serta rotasi pelaku usaha sehingga produk yang ditampilkan beragam dan kesempatan berjualan dapat dirasakan lebih banyak UMKM.
“Yang perlu kita bangun adalah ekosistemnya. Jangan sampai UMKM hanya ditempatkan untuk berjualan, tetapi tidak ada pembinaan setelahnya. Kita ingin ada proses dari mereka mendapatkan ruang, kemudian produknya berkembang, pasarnya bertambah dan akhirnya usahanya bisa naik kelas,” ujarnya.
Baca Juga: 960 Bidang Tanah Aset Pemkab PPU Belum Bersertifikat, BKAD Siapkan Strategi Percepatan
Ia menilai, kehadiran UMKM di CFD juga dapat menjadi sarana menguji daya saing produk. Respons konsumen secara langsung memberikan informasi penting bagi pengusaha mengenai rasa, kemasan, harga, pelayanan maupun konsep pemasaran yang mereka gunakan.
Hal tersebut menjadi penting karena tantangan UMKM saat ini bukan hanya memproduksi barang, tetapi juga bagaimana memastikan produk memiliki pasar dan mampu bertahan di tengah persaingan.
Pengembangan CFD sebagai ruang ekonomi sekaligus pemberdayaan masyarakat pada akhirnya dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
UMKM memperoleh akses pasar, pelaku ekonomi kreatif (ekraf) mendapatkan panggung, perempuan memperoleh kesempatan mengembangkan usaha, sementara masyarakat mendapatkan ruang publik yang lebih aktif dan produktif.
“Bagi Balikpapan, ini dapat menjadi langkah untuk membangun ekonomi kota yang tidak hanya bertumpu pada sektor usaha berskala besar, tetapi juga memberikan ruang bagi kreativitas dan kekuatan ekonomi masyarakat lokal untuk tumbuh bersama,” ujarnya. (rd)
Editor : Romdani.