KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Ketika pasar wisatawan nusantara mengalami tekanan akibat mahalnya tiket pesawat dan pelemahan ekonomi, pasar wisatawan mancanegara justru menunjukkan pergerakan yang lebih positif di sejumlah destinasi Kalimantan.
Berkaitan hal tersebut, Owner Trans Borneo Adventure Tours & Travel Joko Purwanto mengatakan, berdasarkan pengamatannya sebagai pelaku perjalanan yang melayani pasar wisata di Kalimantan, kunjungan wisatawan mancanegara masih berjalan cukup baik. Bahkan, Kalimantan Tengah disebut mengalami peningkatan yang signifikan.
“Kalau wisatawan yang masuk ke Kalimantan, khususnya kalau saya Kalimantan Tengah, itu ada peningkatan signifikan. Tapi kalau untuk Kalimantan Timur masih agak kurang,” kata Joko.
Perbedaan tersebut memperlihatkan adanya pergeseran daya tarik wisata antarwilayah di Pulau Kalimantan. Salah satu destinasi yang menjadi magnet utama adalah Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Tepis Hoaks IKN Mangkrak! Deputi OIKN: Selama Masih Berdebu, Pembangunan Terus Jalan
Joko mengatakan, kekuatan Tanjung Puting terletak pada pengalaman wisata berbasis alam yang ditawarkan kepada wisatawan mancanegara. Pengunjung dapat menyusuri sungai dan menikmati kekayaan ekosistem sekaligus melihat berbagai satwa di habitatnya.
“Daya tariknya itu adalah menyusuri Sungai Kumai, di mana kita bisa melihat sepanjang sungai banyak binatangnya, kayak bekantan, monyet dan sebagainya, burung, buaya, ada semua,” jelasnya.
Selain kekayaan alam, keberadaan pusat rehabilitasi orangutan juga menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan tidak hanya mendapatkan pengalaman melihat satwa, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai upaya konservasi dan rehabilitasi satwa liar.
Menurut Joko, pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana konservasi dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas pariwisata yang dikelola secara terbatas. “Ini hasil untuk merehabilitasi orangutan itu harusnya seperti Tanjung Puting, harusnya dicontoh,” katanya.
Baca Juga: Tiket Pesawat Mahal dan Pelemahan Ekonomi Tekan Bisnis Wisata Kaltim, Wisnus Anjlok Lebih 50 Persen
Dari sisi ekonomi, keberhasilan pengembangan wisata berbasis konservasi juga memberikan manfaat bagi daerah. Aktivitas wisata menciptakan permintaan terhadap jasa transportasi, penginapan, pemandu wisata, makanan, kapal, hingga berbagai kebutuhan perjalanan lainnya.
Joko bahkan menilai Tanjung Puting kini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang mencari pengalaman alam di Indonesia, bersama sejumlah destinasi unggulan lainnya.
Namun, pertumbuhan pasar tersebut juga menghadapi persoalan kapasitas. Pada periode Juni hingga September, permintaan yang tinggi disebut tidak selalu dapat dilayani secara bebas karena keterbatasan sarana.
Menurut Joko, pembatasan kapasitas justru penting agar aktivitas wisata tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.
“Kalau terlalu banyak diberikan sebebas-bebasnya kan juga tidak berusaha kerja, akhirnya kan terbatas. Makanya kita bagi, ada yang ke Kaltim, ada yang ke Kalteng, ada yang ke Kalbar,” tuturnya.
Strategi penyebaran wisatawan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Baca Juga: Pengawasan Pertalite Bersubsidi di Bontang Diperketat, Pemkot Siapkan Opsi Ganjil-Genap
Menariknya, karakter wisatawan mancanegara juga mulai berubah. Joko mengatakan wisatawan dari India kini mulai menunjukkan minat terhadap wisata petualangan dan alam. Padahal, sebelumnya pasar tertentu seperti wisatawan Tiongkok dinilai lebih dominan.
“Kalau India itu kalau orang kaya, kaya sekali. Yang kaya itu juga bourgeois, kalau pilih wisatawan sudah mengarah ke yang adventure juga. Karena sudah bosan dengan kehidupan kota, pengen yang alami juga,” ujarnya.
Wisatawan dari Spanyol disebut menjadi salah satu pasar yang tertinggi saat ini. Selain itu, wisatawan dari Eropa, Amerika Serikat, dan Australia juga mulai masuk.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa wisata alam dan pengalaman berbasis konservasi memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk pariwisata bernilai ekonomi tinggi.
Baca Juga: BGN Tambah Dapur Makan Bergizi Gratis 2026 Tanpa Tambah Anggaran
Bagi Kalimantan Timur, kondisi ini menjadi momentum untuk memperkuat destinasi alam sekaligus membangun produk wisata yang mampu menjawab perubahan preferensi wisatawan global.
"Tidak hanya menjual pemandangan, destinasi perlu menawarkan pengalaman yang autentik, terkelola, terbatas, dan memiliki nilai konservasi. Dengan begitu, wisatawan mancanegara tidak sekadar datang dan membelanjakan uang, tetapi juga ikut mendukung rantai ekonomi lokal," tuturnya.
Di tengah tekanan pasar domestik, pasar wisatawan mancanegara tersebut dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi industri pariwisata Kalimantan.
"Tantangannya adalah bagaimana Kalimantan Timur mampu mengubah potensi alam yang dimiliki menjadi produk wisata yang konsisten, mudah diakses, dan dipromosikan secara agresif ke pasar internasional," timpal Joko. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo