Saat UMKM Hadapi Tekanan Ekonomi, Cake SalaKilo Pilih Ekspansi dari Balikpapan ke IKN

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:30 WIB
HAMPERS LEBARAN: Riswahyuni, pengusaha Cake Salakilo yang rutin sediakan hampers lebaran.
Riswahyuni.

KALTIMPOST.ID-Tekanan ekonomi dan pelemahan daya beli tidak selalu berujung pada pengereman ekspansi usaha. Cake SalaKilo justru mengambil langkah berbeda dengan membuka titik usaha baru di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), sembari mempertahankan tenaga kerja yang dimiliki.

Pemilik Cake SalaKilo Riswahyuni atau biasa disapa Yuni mengatakan, pihaknya memilih memperkuat pasar yang lokasinya masih relatif dekat dengan basis usaha di Balikpapan. Ekspansi ke luar daerah yang sebelumnya sempat menjadi pertimbangan belum menjadi prioritas.

“Belum. Jadi kami malah ekspansinya ke IKN. Karena ingin fokus dulu yang ada di dekat-dekat sini,” kata Yuni.

Saat ini Cake SalaKilo telah memiliki keberadaan usaha di Balikpapan terdapat tiga titik dan satu di IKN. Di Balikpapan, salah satu titik terbarunya berada di Global Sport. Sementara ekspansi ke IKN menjadi bagian dari strategi memperluas jangkauan pasar.

Baca Juga: Daya Beli Melemah, UMKM Batik dan Tenun Kaltim Diminta Tak Takut Bikin Produk Lebih Terjangkau

Langkah tersebut menarik karena dilakukan ketika pelaku UMKM secara umum menghadapi tekanan biaya dan konsumen semakin selektif berbelanja.

Namun, ekspansi bagi Yuni bukan semata-mata soal menambah titik penjualan. Pertumbuhan usaha juga diarahkan agar dapat memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. “Karyawan masih ada," tuturnya.

Keputusan mempertahankan tenaga kerja menjadi bagian lain dari strategi menghadapi tekanan ekonomi. Ketika sebagian pelaku usaha mungkin memilih memangkas biaya melalui pengurangan tenaga kerja, Cake SalaKilo justru berupaya menjaga sumber daya manusia yang telah dimiliki. “Tidak ada. Enggak ada, Alhamdulillah,” kata Yuni ketika ditanya mengenai pengurangan karyawan.

Menurutnya, menjaga kualitas produk merupakan prioritas. Efisiensi tidak dilakukan dengan mengurangi cita rasa maupun standar produk.

“Saya lebih fokusnya itu untuk menjaga konsistensi rasa dan kualitas, supaya pelanggan setia kami itu tidak lari, kemudian juga bisa membuka peluang mendapatkan segmentasi pasar yang baru,” ujarnya.

Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa strategi efisiensi tidak selalu identik dengan pemangkasan. Bagi usaha kuliner, menjaga kualitas dapat menjadi investasi untuk mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang.

Ketika konsumen semakin selektif, kualitas justru menjadi salah satu alasan agar mereka tidak sepenuhnya beralih kepada produk pesaing.

Baca Juga: Sawah Mengering, Kaltim Belum Mampu Swasembada Beras, Defisit Mencapai 189 Ribu Ton

Di sisi lain, ekspansi ke IKN memberikan peluang bagi Cake SalaKilo untuk memperluas pasar tanpa harus langsung mengambil risiko ekspansi geografis yang terlalu jauh.

Yuni mengatakan rencana membuka usaha di luar daerah seperti Makassar belum dilakukan. Fokus masih diarahkan pada kawasan sekitar Balikpapan dan IKN.

Strategi tersebut menunjukkan pendekatan ekspansi yang lebih bertahap. Daripada membuka banyak cabang sekaligus. Usaha terlebih dahulu memperkuat pasar yang dianggap memiliki kedekatan geografis dan peluang permintaan.

Langkah itu juga sejalan dengan upaya Cake SalaKilo mencari sumber pasar baru. “Ketika kunjungan wisatawan ke toko mengalami penurunan dan permintaan dari sejumlah instansi ikut terdampak efisiensi, ekspansi menjadi salah satu cara untuk mencari titik pertumbuhan,” ucap Yuni.

Namun, membuka outlet baru bukan satu-satunya strategi. Cake SalaKilo juga memperkuat pemasaran digital dan marketplace untuk menjangkau konsumen yang tidak datang langsung ke toko.

“Kami mencoba bagaimana nih kita bisa survive. Mungkin digital marketing-nya yang digencarkan lagi, kemudian juga marketplace-nya digencarkan lagi,” kata Yuni.

Kombinasi ekspansi fisik dan penguatan kanal digital menjadi upaya untuk memperluas jangkauan konsumen dari dua arah. Outlet baru memberikan akses terhadap pasar lokal di kawasan baru, sementara kanal digital membuka peluang menjangkau konsumen tanpa bergantung pada kunjungan fisik.

Bagi Yuni sebagai pelaku UMKM, strategi semacam itu menjadi semakin relevan ketika pola konsumsi masyarakat berubah. Konsumen dapat memilih berbelanja lebih selektif, sementara pelaku usaha harus memastikan produknya tetap mudah ditemukan.

Ia melihat keberlanjutan usaha bukan hanya dari besarnya penjualan, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan tenaga kerja dan membuka peluang penyerapan SDM lebih banyak ketika bisnis berkembang.

Baca Juga: El Nino Hantam Pertanian Kaltim, 2.400 Hektare Sawah Kekeringan dan 200 Hektare Terancam Gagal Panen

“Harapannya sederhana, semakin banyak cabang, semakin besar pula peluang usaha untuk menyerap tenaga kerja,” pesannya.

Ekspansi ke IKN pun menurut Yuni, menjadi salah satu bentuk optimisme, bukan ekspansi yang terburu-buru, tetapi langkah untuk mencari peluang pertumbuhan sembari tetap menjaga fondasi usaha yang sudah dibangun di Balikpapan.

“Sebagai beranda IKN, Balikpapan harus siap dengan berbagai perubahan dan adaptasi pasar baru,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
Komjen Karyoto Komjen Fadil Imran letjen lucky avianto ibu kota nusantara Kutai Barat