KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekanan harga di Kalimantan Timur masih terasa hingga Agustus 2026. Secara tahunan, inflasi Kaltim mencapai 3,83 persen, dengan kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan harga sepanjang setahun terakhir.
Berdasarkan pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim di empat kabupaten/kota, inflasi year-on-year (y-on-y) tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,54 pada Agustus 2025 menjadi 112,70 pada Agustus 2026.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, inflasi tahunan terjadi karena sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks. Kenaikan paling tinggi tercatat pada kelompok transportasi yang mencapai 10,55 persen. “Secara tahunan, perkembangan harga berbagai komoditas pada Agustus 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan,” tegas Mas’ud, Selasa (1/9).
Selain transportasi, kenaikan cukup tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,96 persen. Kemudian kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,06 persen. Jika dilihat dari sumbangannya terhadap inflasi tahunan, transportasi menjadi kontributor terbesar dengan andil 1,35 persen. Berikutnya kelompok makanan, minuman, dan tembakau 1,22 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,69 persen.
Sejumlah komoditas turut menjadi sumber tekanan harga. Di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, bensin, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), ikan layang atau ikan benggol, minyak goreng, pelumas atau oli mesin, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, hingga beras.
Tekanan juga datang dari cabai rawit, sewa rumah, sekolah dasar, biaya pemeliharaan atau service, air kemasan, jagung manis, sepeda motor, nasi dengan lauk, semangka, dan bakso siap santap.
Di sisi lain, tidak seluruh komoditas mengalami kenaikan harga. Beberapa komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi tahunan, dengan bawang merah, tomat, dan ikan gabus termasuk di antaranya.
Dari kelompok pengeluaran, rekreasi, olahraga, dan budaya menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks, yakni 0,32 persen. Kelompok tersebut memberikan andil deflasi y-on-y 0,01 persen.
Sementara kelompok pengeluaran lainnya masih mencatat kenaikan indeks. Pakaian dan alas kaki naik 1,36 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,43 persen, serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,23 persen. Kelompok kesehatan naik 2 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,50 persen, pendidikan 2,23 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,63 persen. (*)
Editor : Ismet Rifani