Perjalanan Nonnetedy bermula ketika rancangan hijab praktis buatan Nonne mendapat perhatian anggota Bhayangkari Pengurus Daerah Jawa Barat. Dari sana, produk tersebut menyebar melalui rekomendasi dari konsumen ke konsumen.
“Kualitas dan kepraktisannya dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, menarik minat berbagai organisasi wanita lainnya seperti Persit, PIA Ardhya Garini, hingga Dharma Wanita,” tutur Nonne, istri Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Tedy Sopandi.
Respons tersebut kemudian membuka kesempatan bagi Nonne untuk berbagi pengetahuan mengenai penggunaan hijab praktis dalam berbagai kegiatan organisasi perempuan. Dari komunitas, Nonnetedy mulai memperluas pemasaran melalui bazar dan toko fisik. Nonne juga mengikuti sejumlah pameran hijab di pusat perbelanjaan di Bandung.
Perlahan, aktivitas tersebut membawa Nonnetedy tampil dalam sejumlah kegiatan fashion. Pada 2014, Nonnetedy mengisi sesi Hijab Tutorial dalam Urban Fest (Distro, Hijab, Music, Food Festival) di GSG ITENAS Bandung, 29 Mei–1 Juni 2014.
Setahun kemudian, Nonnetedy kembali tampil dalam Hijab Fashion Week 2015 di Graha Manggala Siliwangi, Bandung. Dalam kegiatan tersebut, Nonne memandu sesi tutorial hijab. Bagi Nonne, pengalaman panjang tersebut memberikan pelajaran bahwa keberlangsungan UMKM tidak semata ditentukan kemampuan mengikuti perubahan tren.
“Kunci dari ketahanan UMKM lokal adalah kemampuan untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mempertahankan karakter dan merawat kepercayaan konsumen pertama,” tuturnya.
Menurut dia, menjaga kualitas produk dan memahami kebutuhan konsumen menjadi bagian penting dalam mempertahankan usaha ketika tren fashion terus berubah. Memasuki era perdagangan digital, Nonnetedy pun menyesuaikan pola pemasarannya. Produk kini dipasarkan melalui berbagai platform digital dan marketplace.
Perjalanan sejak 2010 hingga sekarang menjadi pengalaman Nonne dalam mempertahankan sebuah jenama di tengah perubahan pola konsumsi dan perkembangan industri fashion.
Bagi pelaku UMKM, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya membangun produk dari kebutuhan konsumen, menjaga kualitas, sekaligus terbuka terhadap perubahan saluran pemasaran.
Nonne berharap pengalaman yang dijalani Nonnetedy dapat menjadi pembelajaran bagi pelaku UMKM lain, termasuk dalam mengembangkan produk yang memiliki karakter sekaligus mampu mengikuti kebutuhan pasar. (riz)
Editor : Muhammad Rizki